Selasa, 27 Oktober 2015

What's going on?

Tidak jelas.
Buram.
Muram.

Sedang dalam masalah yang pelik. Bukan masalah yang lumrah untuk disebarkan. Masalah yang berkutat di situ-situ saja. Bosan. Kau tahu kata bosan? Jenuh. OH.. tidak tidak... Saya lelah. Hmm mungkin memang tidak ada kata yang tepat atau saya memang sedang melebih-lebihkan segalanya.

Iblis memang jago memanipulasi ya. Perasaan harusnya anugerah, tapi hati yang gersang sepertinya memang jadi sasaran empuk bagi si jahat. Oh ya, saya tahu itu. Tapi, apa yang harus saya perbuat?

Saya simpan ini sendiri. Cukup kuat untuk beberapa lama. Entahlah, mungkin memang saya terlahir sebagai anak tunggal untuk dilatih menghadapi ini sendiri. Semua ada maksudnya kan? Yup. Bukan merasa tangguh, atau gengsi untuk minta tolong. Sepertinya memang bukan pilihan tepat untuk membagi ini dengan orang lain - tentu mereka punya masalah masing-masing.

Kutahu dan kupaham semua orang punya masalah masing-masing. Milikku bukan yang terparah. Akan kusimpan bagi diriku sendiri. Sekalipun mungkin aku akan habis digerus, retak, dan hilang tak bersisa, setidaknya aku mencoba.

Aku memang butuh teman. Aku butuh kalian. Tapi orang lain di luar sana, lebih membutuhkan kalian. (I wish) I'm fine.

Seperti yang kuduga, ga akan ada orang yang bertahan lama disampingku. haha. seperti yang kuduga.

Rabu, 14 Oktober 2015

You tell me once again, in a different way

Sebenernya ini adalah kejadian yang udah lama banget. Kalo di postingan sebelum ini gw mulai merasakan kekecewaan dan daulat Tuhan atas semua manusia, maka kali ini beda ceritanya.

Hem, gini. Ada saatnya manusia jadi makhluk yang sangat tidak sensitif. Ada saatnya manusia kehilangan "kemanusian"nya. Yap! Itulah kondisi yang sempat gw rasakan. Saat itu rasanya hambar. Manis engga, pahit juga engga. Sedih kaga, seneng juga kaga. Perasaan itu cukup aneh dan sedikit mengganggu. Tapi, untungnya ga ada orang-orang yang memastikan keadaan hati gw. Kenapa? Ya mungkin karena memang gw biasa aja. Ya ketawa iya, ya cemberut iya. But, i really feel nothing.

Oh! ternyata gw ga bener-bener ngerasain hambar. Gw masih bisa merasa gelisah, takut, dan risih. Cukup besar sampe kadang bikin gw sensian ke orang. Bahkan ke diri gw sendiri.

Tapi, lagi-lagi, Tuhan punya cara yang - kali ini gw bilang cukup unik.

Gw pengen banget nonton bioskop waktu itu. Niatnya sih penge nonton sama Hanbun. Tapi entah kenapa gw jadi kepikiran buat nonton sama nyokap. Akhirnya, gw ajak tuh nyokap buat nonton. Trus gw ajak juga Mikha (ponakan gw) sama Ka Eka (emaknya mikha) buat nonton ke detos. Sejujurnya sih waktu itu nyokap lagi ga ada uang, tapi dicukup-cukupin lah buat nonton. Akhirnya kita nonton inside out. Saat nonton film itu, gw ngerasa jadi tokoh anak yang jadi pusat cerita. Gw ngerasa memang gw kehilangan "sadness" dan "joy" di saat yang bersamaan. Gw cuma punya "fear, anger, dan digusting". Hem, menarik. Saat gw merasa kosong, Tuhan menampar gw lewat FILM! Dan dari film ini, gw sadar bahwa di dalem lubuk hati gw ada perasaan kangen untuk dipeluk dan disayang-sayang sama nyokap bokap. Waktu nonton gw nangis, dan di sebelah gw nyokap. Berasa banget kangennya. Tapi intinya (gw bukan mau menyoroti bagian menye-menye ini-_-), gw menemukan bahwa memang kadang diperlukan sebuah kedewasaan untuk berani merasakan kesedihan sampai kita mengetahui kejujuran dalam hati kita.

Gw terkagum. Ada aja ya cara Tuhan. Ga nyangka.

Cerita bonus:
Bahkan Tuhan tau kalo gw sekeluarga emang lagi berusaha irit. Di saat itu pula, kita makan dengan biaya yang bisa dibilang dimurahkan Tuhan. Kita bisa makan di salah satu restoran cepat saji berempat sampe kenyang ga sampe 100rb. Hem, ini juga bentuk penyertaan :")

Yup, saat itu gw ngerasa....
"You tell me once again, in a different way"

Kamis, 13 Agustus 2015

CaraNya yang Ajaib

Aku  bukan orang yang sempurna.

Pernah, sering dan ada saatnya gw ngerasa sedih banget liat keadaan beberapa orang yang menurut gw baik. Mereka seharusnya bisa jadi baik. Entah kenapa, gw punya perasaan yang menyatakan kalau mereka ga seharusnya berperilaku kaya gitu. Mungkin, sebatas mungkin..... gw mengasihi mereka.

Suatu kali, gw ada di puncak kekecewaan gw. Sedih. Gatau kenapa, harapan gw sangat besar dan saat itu rasanya menguap begitu aja. Sedihnya, ampe ke ubun-ubun. Sungguh, ga boong.

Setelah perasaan kecewa dan sedih itu, muncullah perasaan ga enak (entah apa namanya). Sampai akhirnya, seseorang chat gw di line. Berita sukacita. Yup!! Sangat sukacita. Satu sisi gw merasa bersyukur dan spechless sama kuasa Tuhan. Tapi, di sisi lain, gw merasa kenapa Tuhan kasih tanggung jawab yang sangat besar buat gw? Kenapa Tuhan mempercayakan hal yang sangat besar sama gw yang sedang hancur???

Sampai akhirnya, gw persiapan buat kelompok kecil. Waktu itu bahas tentang Roma 9 : 1-29.

Lewat Roma, gw diajak berpetualang bersama Paulus. Awalnya, gw turut merasakan rintihan hati Paulus atas kondisi bangsa Israel (perhatikan bagian ini, kondisi bangsa Israel mirip dengan kondisi beberapa orang yang sedang gw kasihi). Kemudian, dibawa untuk mengetahui beberapa hal. Ya, mereka memang pilihan Tuhan. Oh, ya benar Tuhan punya kuasa untuk membentuk ciptaannya, menjadi peran antagonis ataupun protagonis. Ya, adil untuk Tuhan tidak bisa diukur dengan ukuran adil manusia. Bukan keturunan yang menentukan status "anak". Ada masanya Tuhan panggil mereka yang bukan umatNya menjadi umatNya! Itu DAULAT TUHAN. OTORITAS TUHAN.

Astaga, gw ga tau lagi harus meresponi persiapan itu seperti apa.
Tuhan berbicara tepat sama gw melalui hal yang gw lewatin.
Tuhan menyatakan langsung dan mengaplikasikan langsung FirmanNya lewat pengalaman hidup gw.

Saat itu juga, gw merasakan makna dari Daulat Tuhan.

"Ya Tuhan, mengucap syukur, Kau setia menggapai aku yang menjauh sekalipun. Aku yang hancur dan aku yang merasa kosong. Kau buka mataku dengan caraMu sendiri."

Selasa, 21 Juli 2015

Kabar Dukacita

Satu lagi kabar dukacita yang menusuk di tahun ini.
Setelah sebelumnya, Deni dan Bang Monce pergi mendahului, sekarang Om Lulu yang tenpa disangka-sangka pergi. Belum beberapa lama, beliau baru ngomel sama gw karena kesehatan yang ga baik-baik dan gw yang susah banget disuruh istirahat. Sampe akhirnya, gw pergi retreat remaja tanggal 8-10 Juli kemarin dan kehilangan kontak sama sekali dengan beliau. Aneh sih rasanya ga dicerewetin untuk sekian hari. Tapi, perasaan awalnya biasa aja. Lama-kelamaan janggal juga.

Tiba-tiba, pas lagi nunggu kabar tentang temen lain yang namanya Iqbal yang juga lagi ga sehat, malah dikejutkan sama kabar buruk. Berasa dikejutin listrik 1000 volt. Lebay sih emang, tapi sungguh kagetnya bukan main. Ternyata, Om Lulu kecelakaan dan keadaannya parah. Berita itu baru sampe di kuping gw beberapa hari setelah beliau kecelakaan dan tak kunjung sadarkan diri.

Di saat kaya gitu, gw ga bisa ngapa-ngapain. Gw cuma bisa menunggu dan pasrah (awalnya). Sampai gw sadar bahwa kemungkinan besar gw diminta untuk berserah. Bukan pasrah dan meratapi. Tapi berserah dan menyadari sepenuhnya kalau apapun yang terjadi itulah yang terbaik.

Kemarin... Yup, benar-benar kemarin... Om Lulu sadar untuk terakhir kalinya. Meninggal jam 8 malem tanggal 20 Juli 2015. Sepertinya, memang tugas beliau sudah selesai. Ikhlas, tapi masih sedih. Wajar, gw manusia. Sedih banget malah. Tapi, manis inget apa aja yang udah terjadi. Tapi sedih. Bodo amat-_-

Selasa, 23 Juni 2015

Adakah orang baik?

Tahukah bahwa sesungguhnya ketika engkau menemukan orang baik, mungkin saja dia bukan orang baik. Mungkin saja dia hanya seseorang yang tidak mampu mengekspresikan kejahatannya. mungkin saja dia hanya menyimpannya untuk diri sendiri. mungkin..

apa sebenarnya definisi orang baik? Apa tolak ukur kebaikan? Bagaimana seseorang dapat benar-benar dikatakan baik?

Manusia menyimpan benih keberdosaan dalam diri mereka. Dosa turunan, dosa warisan, yeah whatever. Ketika definisi orang baik adalah orang yang senantiasa melakukan kebaikan, adakah manusia yang seumur hidupnya melakukan hanya hal baik? Lalu, ketika seseorang berbuat dosa, apakah dia murni bukan orang baik?

Hal yang baru saja aku pelajari..
Manusia memang hidup di dalam dosa. Ada natur dan keinginan untuk berbuat dosa. Namun, kerap kali manusia dengan liciknya berusaha untuk menyuap Tuhan, menyogokNya dengan berbagai perbuatan baik. Sehabis marah dengan seseorang, kita akan berdoa kepada Tuhan dengan lebih lama dan lebih intens, seakan-akan dengan demikian dosa kita dapat ditutupi. Lakukan kesalahan sebanyak-banyaknya dan kemudian lakukan disiplin rohani sebanyak-banyaknya, maka hal itu akan seimbang. benarkah demikian?

Tentu tidak!

Mengingat bahwa manusia menjadi layak dan selamat karena diselamatkan oleh Yesus Kristus. Diluar itu, kita MATI. Satu-satunya hal yang membuat kita masih layak untuk disebut anak adalah kenyataan bahwa Tuhan yang mengangkat kita menjadi anak. Lalu, relevankah usaha kita untuk menutupi dosa dengan perbuatan baik?

hmm.. sayangnya tidak..

Bagaikan seorang bayi yang tidak dapat berbuat apa-apa, hanya bisa menangis ketika membutuhkan sesuatu, membangunkan Raja bahkan sebelum matahari terbit, itulah kapasitas sekaligus keistimewaan kita. Menyadari bahwa kita tidak bisa apa-apa. Sampai Roh Tuhan yang mengalahkan kedagingan kita, membawa kita pada kebergantungan penuh kepada Tuhan.

Susah? Ya emang. Kata siapa gampang?-_-

Masih belajar. Masih mencoba. Masih meminta untuk disanggupkan.

Jadi, adakah orang baik?
Menurutku, yang ada adalah orang yang senantiasa bersedia diperbaiki. Yah, cukup baik lah.. haha..

Rabu, 10 Juni 2015

Kembali mengeluh

Haha.. siap-siap sama postingan yang isinya keluhan. Kesedihan dan kekecewaan sama diri sendiri. (kan ngeluh mulu-_-)

Hari ini, besok, minggu depan mungkin keadaannya ga jauh beda. Mungkin tambah parah, mungkin juga engga. Blackout udah biasa. Mungin aja pergi tiba-tiba pas lagi blackout. Ga ada yang tau. Gw rasanya belom siap. Bukan karna taut hadepinnya. Gw justru takut apa yang gw lakuin belum maksimal. APA YANG UDAH GW LAKUIN DI DUNIA INI? Nah nah kan.. bingung juga jawabnya.. Masa mau bilang "makan, tidur, makan, tidur, belajar dikit". yakali dah-_-

Eh eh, jangan salah paham yak, bukannya gw pesimis.. wkwk.. gw masih niat jadi orang bugar ko. Ini mah saya lagi bayangin aja. Andaikan apabila bilamana hal itu terjadi...... gitu..

Hmm.. ngomong-ngmong udah lama ga bikin puisi.. nih satu untuk sekian lama..

Hitam tetaplah hitam
Tetapi di balik hitam mungkin akan timbul secercah cahaya
Tetapi di balik hitam mungkin mengalir sejumlah harapan
Tetapi di balik hitam mungkin membuncah sebongkah semangat

Hitam tetaplah hitam
Kadang terasa begitu gelap
Kadang terasa pekat mencekam
Kadang terasa berderai luka berdarah

Hitam tetaplah hitam
Namun lihatlah tangan yang terulur
Namun lihatlah Pribadi yang setia
Namun lihatlah dengan mata hatimu

Hitam tetaplah hitam
Akan tetapi Harapan tetaplah harapan

Senin, 25 Mei 2015

I was writing deeply

Emang bener kalo kata orang, kemampuan itu ada karena diasah.
Udah lama banget ga nulis lho ini. Kenapa ya, rasanya jadi canggung.
Pernah ketemu sama mantan yang udah lama ga ketemu?
Gw sih belom pernah........ haha~
Tapi kayanya begitulah kira-kira rasanya.

Dulu, buat ungkapin gelisah, kalo kata teori yang gw pelajarin sekarang (drive reduction theory) buat mereduksi sebuah dorongan (dalam hal ini kegelisahan) maska saya akan menulis (atau paling tidak mengetik).

Bingung? sama. Ha-_-

Menulis itu, dulu udah kegiatan sehari-hari. Selain buat nugas, nulis juga biasa gw lakuin. Bahkan dulu gw menulis hal yang ga penting di tengah pelajaran. hahaha. Dasar pani-_-

Tapi, sekarang kata orang sih hobi yang kemakan kesibukan. Mau aktif nulis lagi ah. Masih mau jadi novelis.

Sekian cuap-cuap dari saya, permisi... Mau silaturahmi dulu sama mantan (baca: kegiatan tulis menulis)