Takut.
Kini banyak hal berubah menjadi bayang.
Perasaan yang dulu menggebu mendadak hilang.
Mereka satu per satu pergi dan tak kunjung pulang.
Mampukah aku tetap menjadi rumah?
Mampukah aku menunggu tanpa keluh kesah?
Mampukah aku memstikan ini bukan tidakan yang salah?
Sampai saatnya tiba dan aku sadar aku terlalu takut.
Takut menjalin relasi baru
Takut terhisap kenyamanan semu
Takut hanya jadi sandungan batu
Bagi mereka yang berniat membantu
Aku ingin mengurung diri
Cukup atasi semua sendiri
Sampai nanti tiba waktunya pergi
dan rumah itu bukan diriku lagi
Tapi, ada sedikit api yang tak mau mati
Jauh di dalam hati ini aku merindu setengah mati
Terhadap mereka yang sangat kukasihi
Temanku menangis tertawa dan terus berbagi
Sebelum semua berubah menjadi ironi
Ini rindu, ini gelora yang membuncah
Ini rindu, ini perih dari luka yang selalu basah
Bukan lukaku, tapi luka mereka..
Yang nampaknya tak bisa kusembuhkan selamanya...
Teman, kemarin aku baru saja ikut Persekutuan Jumat di Smansa. Temanya, fellowship. Tahukah kalian? Sesaat setelah aku memandangi mereka, wajah-wajah yang penuh ekspresi itu, adik-adik kelas kita itu... aku ingat kalian.. Bagaimana dulu kita menjalin relasi tanpa memikirkan banyak hal lain.. Bagaimana dulu Tuhan menyatukan kita dalam wadah itu. Aku rindu.
"kasih bukan lagi kasih ketika menuntut"
aku mengasihi kalian. Sekarang dan selamanya. Sekalipun kalian tidak lagi mengasihiku. Sampai akhir hidup ini - yang mungkin ga lama lagi - aku mendoakan kalian. Cepat pulih :)
Jumat, 11 Maret 2016
Jumat, 01 Januari 2016
Surat untuk Neptunus
Dear Neptunus,
Neptunus, apa kabar? Apa kabar laut? Apa kabar ketenangannya? Apa kabar angin dan ombak-ombak kecilnya?
Neptunus, aku mau cerita. Sebuah cerita kecil yang masih melekat dalam ingatan sampai sekarang. Begini ceritanya..
Neptunus, dulu aku bersekolah di SMA negeri yang diinginkan banyak orang, sedangkan aku sendiri biasa saja. Sampai akhirnya aku terjebak dalam sebuah organisasi. Ya, terjebak dan terjerat. Bukan dalam artian yang negatif, justru sebaliknya. Aku ditangkap dan dibawa dalam babak kehidupan yang baru. Senior-senior itu, teman-teman itu, menghanyutkanku dalam bayang-bayang keluarga. Mereka memberiku kesempatan untuk merasa nyaman. Hangat. Emak, nenek minyo, and everyone else make this whole story. But, this is the masterpiece.
Perkenalkan Neptunus, mereka adalah dua orang yang pertama kali berhasil membuatku merasa memiliki "seseorang". Yah, semoga kau mengerti maksudku. Salah satu dari mereka berambut lurus, sedangkan yang lain lurus dengan sedikit (sangat sedikit) gelombang. Mereka berdua berkacamata, sama denganku. Kami senang bernyanyi, kami senang datang persekutuan. Kami ikut eskul yang sama. Kami ngobrol dan membicarakan hal yang seirama. Kami sama dengan orang-orang lain, tertawa, membicarakan hal yang entah kenapa menjadi penting, dan mendoakan orang lain. Oh oh!! aku ingat saat kami membicarakan kuku kaki kembar siam bertiga. Haha sampai kami membayangkan bagaimana cara kami memakai baju jika hal itu benar-benar terjadi. Aku juga ingat saat salah satu dari mereka menjatuhkan indomiku, dan dia marah (harusnya aku kan ya yang marah-_-) wkwk. Aku juga ingat saat mereka mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikanku kotak dengan berbagai wish. Neptunus, benda itu masih kusimpan dengan rapih di lemariku, sampai sekarang. Aku juga ingat spot galau kami di lantai 2 sekolah menghadap perairan. Hem, how sweet that moment. Hey sungguh, aku tidak menangis neptunus, tidak.
Kami menghabiskan banyak waktu bertiga sampai (coba tebak!) seseorang menambah komplotan kami. Neptunus, komplotan baru kami laki-laki lho! Senior kami, satu tahun di atas kami. Seiring dengan waktu yag berputar, kami semakin sering bersama. Saat istirahat, pulang sekolah, jam-jam kosong. Singkong kukus gula manis. Kami memikirkan hal yang sama, kami membicarakan hal yang sama, kami sependapat, kami beruaha memecahkan masalah, kami berdoa bersama untuk hal yang sama. Saat itu, aku merasa punya kaka laki-laki. Aku ingat saat dia rela menunggu kami dan memastikan kami dapat pulang ke rumah sebelum ia pulang. Aku ingat saat dia tahu kalau-kalau ada yang tidak beres terjadi pada salah satu dari kami bertiga. Saat itu, ia akan sibuk menanyakan dua orang yang lain. Aku juga ingat saat aku dalam keadaan tidak sehat, ia rela menyusulku ke rumah. Ya dia bersedia. Aku juga ingat saat dia masuk rumah sakit, entah... aku sedih.. hanya saja saat itu semuanya sudah berubah. Dia mulai menjauh. Di sisi lain dia sudah dimiliki oleh orang lain. Kami tidak berhak meminta lebih. Hanya saja, kami kehilangan kakak kami, dan kami mencoba mengerti sekalipun ga bisa bohong, kami kangen. Neptunus, sampaikan kangen ini kepadanya ya... we always happy for his happiness. we just miss him. Hussh, Neptunus, jangan meledek. Aku tidak menangis.
Setelah itu, tentu kami kembali bertiga. Namun, sepertinya kami masih ditambah beberapa komplotan. Di satu titik aku merasa banyak orang silih berganti diselipkan di antara kami. Hei Neptunus, tentu saja mereka memberi warna terhadap persahabatan kami. Salah satu dari mereka ada yang sifatnya sangat jahil dan sangat susah diam. Dia tipe laki-laki bawel yang selalu merasa ganteng. Haha. Satu lagi orang yang sangat sayang sama pacarnya (sampai sekarang), cukup care dan sempat merasa tidak mampu menjadi pemimpin. Padahal dia sudah memimpin dengan baik. Yang lain pendiam dan susah ditebak. Namun di satu titik kami sempat merasa dekat dengannya. Ya, hanya di satu titik. Mereka silih berganti mengisi ruang di antara kami sampai akhirnya badai itu datang. Neptunus, kamu tinggal di laut kan? Tahu kan tentang badai? Badai itu, menyeramkan.... menakutkan..... Neptunus, dalam badai itu kami diuji, tetap bersatu bertiga atau berpisah seolah tidak pernah dekat satu sama lain. Fanatik. Ya, hal itu cukup membekas. Rupanya hal itu berhasil memecah kami. Demi mereka yang menganggap kami terlalu fanatik karena selalu bertiga (yang sampai sekarang tidak aku temukan korelasinya), demi kebaikan orang lain, kami memutuskan untuk tidak bertiga.
Tapi badai pasti berlalu, Neptunus. Tenang saja. Setelah berhari-hari mimpi buruk terlewati, kami mencoba bersatu kembali. Sekalipun mungkin tidak seutuhnya sama, tapi kami mencoba bersatu kembali dan aku merasakannya. Kemudian..... satu orang lagi melengkapi kami, Neptunus. Dia laki-laki tinggi yang juga berkacamata. Saat itu mungkin dia juga mulai merasa terjebak. Awalnya mungkin terikat tanggung jawab pemusik pengurus, sampai tanggung jawab seorang teman. Dia sukses masuk ke dalam lingkaran kami yang awalnya bertiga. Kami pun bersyukur atas kehadirannya. Kami mulai berbagi banyak hal berempat. Jatuh bangun pelayanan dan persahabatan. Tahukah kau Neptunus, masih erat di ingatanku saat kami melingkarkan tangan kami dan berdoa bersama di depan lab fisika, ditengah kegundahan dan kesulitan yang waktu itu kami alami. Tahukah Neptunus, kami juga pernah menonton bersama. refrain. Yup, ingatan yang masih segar. Rasa-rasanya hal itu baru saja berlalu beberapa hari yang lalu. Sampai akhirnya, aku ingat kami kembali ada dalam keadaan sulit. Ya, saat itu aku ada dalam beberapa kenyataan. Pertama, aku masih menyimpan perasaan sedih saat dulu kami bertiga memutuskan untuk berpisah demi menjaga perasaan orang lain. Kedua, aku sangat ingin melindungi teman-teman perempuanku dan tidak ingin kehilangan mereka. Ketiga, sadar tidak sadar aku menyembunyikan banyak hal dari mereka dan meceritakannya kepada laki-laki yang kuanggap (saat itu) lebih mampu menangani bahaya. Keempat, ikatan itu semakin tidak seimbang karna akhirnya aku menyeret laki-laki ini terlalu dalam. Namun saat aku bisa menjelaskannya kepada mereka (dua perempuan berkacamata) aku merasa mereka berusaha mengerti. Sepertinya saat itu kami mengusahakan dan mempertahankan persahabatan ini. Neptunus, persahabatan itu sangat hangat. Tawa mereka, canda mereka, pergumulan mereka, tangis mereka, keluh kesah mereka, cerita mereka, dan mereka menjadi kekuatan yang sangat besar. Berharga. Neptunus, percayalah... aku TIDAK MENANGIS.
Penyesalanku Neptunus, ya penyesalanku. Menyeret seseorang terlalu dalam dan membuatnya berada dalam trauma. Membagi cerita yang tidak seimbang sampai mungkin mereka merasa outgroup. Melibatkan mereka dalam situasi yang berbahaya. Menyulitkan mereka di masa-masaku yang sangat lemah. Menggaggu jam tidur mereka dan mengganggu waktu-waktu belajar mereka di sekolah. Membuat mereka terjerumus dalam masalah yang mungkin jauh dari bayangan mereka. Membuat mereka harus berurusan dengan orang-orang menyeramkan dan membuat mereka terkurung dalam rasa takut. Harusnya dari dulu, kuselesaikan ini sendiri. Neptunus, harusnya mereka tidak perlu merasakan hal-hal mengerikan itu. Harusnya mereka mengisi hari-hari mereka dengan kebahagiaan, dan sepertinya, aku bukanlah orang yang tepat. Neptunus, sampaikan maafku kepada mereka.
Mengenal mereka adalah sebuah keuntungan yang sangat besar bagiku, Neptunus. Aku rindu saat dimana kami benar-benar ada satu sama lain. Aku rindu saat aku bisa menjadi diriku yang sangat bawel, berisik, annoying, ga jelas, dan mereka menerimaku apa adanya. Aku rindu chat-chat ga penting dan bincang-bincang singkat yang kami lakukan dulu. Aku kangen menelepon mereka untuk hal-hal konyol dan sepele. Aku berusaha menyodorkan telingaku, tanganku, tenagaku untuk memperbaiki semuanya. Aku berusaha memberikan hatiku satu-satunya kepada mereka. Neptunus, aku berusaha...... membantu laki-laki berkacamata itu untuk kembali merasakan kasih, namun spertinya aku bukanlah orang yang tepat karena aku menyebabkan dia kehilangan kasih dan terjebak dalam mimpi buruk. aku berusaha, menjawab pertanyaan perempuan berambut lurus itu dan menanyakan kabarnya, namun sekali lagi aku bukan orang yang tepat untuk menjawab pertanyaannya, bahkan beberapa saat aku tidak berhasil menghubunginya. Aku juga berusaha untuk menggapai perempun kacamata berambut tidak benar-benar lurus, namun sekali lagi usahaku tidaklah cukup, aku masih lalai. Neptunus, aku merindukan mereka. Hati ini, raga ini, siap untuk diperintah, siap untuk membantu, kapan saja mereka membutuhkanku. Hanya ini yang kupunya. Namun, seiring waktu berjalan, diam membunuhku perlahan. Setiap malam mimpi buruk membayang. Sampai beberapa hari lalu aku masih sanggup melawannya. Sampai beberapa hari lalu aku masih percaya bahwa apa yang dipersatukan oleh Allah tidak dapat dipisahkan oleh manusia. Lalu seketika aku berfikir, bagaimana jika memang Tuhan inginkan relasi ini untuk berakhir. Neptunus, rasanya hancur. Tapi aku tidak boleh egois. Mereka layak mendapatkan sahabat yang membuat mereka bertumbuh. Mereka harus menemukannya. Neptunus, aku ingin bertemu laut. Aku ingin angin membawa kesediahan ini. Aku ingin berada di dalam air, agar tidak seorang pun melihat bulir-bulir air di wajah ini. Tidak Neptunus, aku tidak menangis......... Biar mereka melihatku yang selalu tersenyum.
Aku tidak menangis. Ini dosaku yang pertama tahun ini.
Aku kuat dan sudah merelakan mereka melupakanku sepenuhnya. Ini dosaku berikutnya
Aku sangat membenci mereka, tidak pernah dan tidak akan mengharapkan mereka untuk kembali, dan tidak akan memikirkan mereka lagi. Ini dosaku yang sangat besar.
Neptunus, terima kasih telah mendengarkan ceritaku. Pesanku, jangan berbohong karna itu sangat sangat menyakitkan.
Neptunus, apa kabar? Apa kabar laut? Apa kabar ketenangannya? Apa kabar angin dan ombak-ombak kecilnya?
Neptunus, aku mau cerita. Sebuah cerita kecil yang masih melekat dalam ingatan sampai sekarang. Begini ceritanya..
Neptunus, dulu aku bersekolah di SMA negeri yang diinginkan banyak orang, sedangkan aku sendiri biasa saja. Sampai akhirnya aku terjebak dalam sebuah organisasi. Ya, terjebak dan terjerat. Bukan dalam artian yang negatif, justru sebaliknya. Aku ditangkap dan dibawa dalam babak kehidupan yang baru. Senior-senior itu, teman-teman itu, menghanyutkanku dalam bayang-bayang keluarga. Mereka memberiku kesempatan untuk merasa nyaman. Hangat. Emak, nenek minyo, and everyone else make this whole story. But, this is the masterpiece.
Perkenalkan Neptunus, mereka adalah dua orang yang pertama kali berhasil membuatku merasa memiliki "seseorang". Yah, semoga kau mengerti maksudku. Salah satu dari mereka berambut lurus, sedangkan yang lain lurus dengan sedikit (sangat sedikit) gelombang. Mereka berdua berkacamata, sama denganku. Kami senang bernyanyi, kami senang datang persekutuan. Kami ikut eskul yang sama. Kami ngobrol dan membicarakan hal yang seirama. Kami sama dengan orang-orang lain, tertawa, membicarakan hal yang entah kenapa menjadi penting, dan mendoakan orang lain. Oh oh!! aku ingat saat kami membicarakan kuku kaki kembar siam bertiga. Haha sampai kami membayangkan bagaimana cara kami memakai baju jika hal itu benar-benar terjadi. Aku juga ingat saat salah satu dari mereka menjatuhkan indomiku, dan dia marah (harusnya aku kan ya yang marah-_-) wkwk. Aku juga ingat saat mereka mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikanku kotak dengan berbagai wish. Neptunus, benda itu masih kusimpan dengan rapih di lemariku, sampai sekarang. Aku juga ingat spot galau kami di lantai 2 sekolah menghadap perairan. Hem, how sweet that moment. Hey sungguh, aku tidak menangis neptunus, tidak.
Kami menghabiskan banyak waktu bertiga sampai (coba tebak!) seseorang menambah komplotan kami. Neptunus, komplotan baru kami laki-laki lho! Senior kami, satu tahun di atas kami. Seiring dengan waktu yag berputar, kami semakin sering bersama. Saat istirahat, pulang sekolah, jam-jam kosong. Singkong kukus gula manis. Kami memikirkan hal yang sama, kami membicarakan hal yang sama, kami sependapat, kami beruaha memecahkan masalah, kami berdoa bersama untuk hal yang sama. Saat itu, aku merasa punya kaka laki-laki. Aku ingat saat dia rela menunggu kami dan memastikan kami dapat pulang ke rumah sebelum ia pulang. Aku ingat saat dia tahu kalau-kalau ada yang tidak beres terjadi pada salah satu dari kami bertiga. Saat itu, ia akan sibuk menanyakan dua orang yang lain. Aku juga ingat saat aku dalam keadaan tidak sehat, ia rela menyusulku ke rumah. Ya dia bersedia. Aku juga ingat saat dia masuk rumah sakit, entah... aku sedih.. hanya saja saat itu semuanya sudah berubah. Dia mulai menjauh. Di sisi lain dia sudah dimiliki oleh orang lain. Kami tidak berhak meminta lebih. Hanya saja, kami kehilangan kakak kami, dan kami mencoba mengerti sekalipun ga bisa bohong, kami kangen. Neptunus, sampaikan kangen ini kepadanya ya... we always happy for his happiness. we just miss him. Hussh, Neptunus, jangan meledek. Aku tidak menangis.
Setelah itu, tentu kami kembali bertiga. Namun, sepertinya kami masih ditambah beberapa komplotan. Di satu titik aku merasa banyak orang silih berganti diselipkan di antara kami. Hei Neptunus, tentu saja mereka memberi warna terhadap persahabatan kami. Salah satu dari mereka ada yang sifatnya sangat jahil dan sangat susah diam. Dia tipe laki-laki bawel yang selalu merasa ganteng. Haha. Satu lagi orang yang sangat sayang sama pacarnya (sampai sekarang), cukup care dan sempat merasa tidak mampu menjadi pemimpin. Padahal dia sudah memimpin dengan baik. Yang lain pendiam dan susah ditebak. Namun di satu titik kami sempat merasa dekat dengannya. Ya, hanya di satu titik. Mereka silih berganti mengisi ruang di antara kami sampai akhirnya badai itu datang. Neptunus, kamu tinggal di laut kan? Tahu kan tentang badai? Badai itu, menyeramkan.... menakutkan..... Neptunus, dalam badai itu kami diuji, tetap bersatu bertiga atau berpisah seolah tidak pernah dekat satu sama lain. Fanatik. Ya, hal itu cukup membekas. Rupanya hal itu berhasil memecah kami. Demi mereka yang menganggap kami terlalu fanatik karena selalu bertiga (yang sampai sekarang tidak aku temukan korelasinya), demi kebaikan orang lain, kami memutuskan untuk tidak bertiga.
Tapi badai pasti berlalu, Neptunus. Tenang saja. Setelah berhari-hari mimpi buruk terlewati, kami mencoba bersatu kembali. Sekalipun mungkin tidak seutuhnya sama, tapi kami mencoba bersatu kembali dan aku merasakannya. Kemudian..... satu orang lagi melengkapi kami, Neptunus. Dia laki-laki tinggi yang juga berkacamata. Saat itu mungkin dia juga mulai merasa terjebak. Awalnya mungkin terikat tanggung jawab pemusik pengurus, sampai tanggung jawab seorang teman. Dia sukses masuk ke dalam lingkaran kami yang awalnya bertiga. Kami pun bersyukur atas kehadirannya. Kami mulai berbagi banyak hal berempat. Jatuh bangun pelayanan dan persahabatan. Tahukah kau Neptunus, masih erat di ingatanku saat kami melingkarkan tangan kami dan berdoa bersama di depan lab fisika, ditengah kegundahan dan kesulitan yang waktu itu kami alami. Tahukah Neptunus, kami juga pernah menonton bersama. refrain. Yup, ingatan yang masih segar. Rasa-rasanya hal itu baru saja berlalu beberapa hari yang lalu. Sampai akhirnya, aku ingat kami kembali ada dalam keadaan sulit. Ya, saat itu aku ada dalam beberapa kenyataan. Pertama, aku masih menyimpan perasaan sedih saat dulu kami bertiga memutuskan untuk berpisah demi menjaga perasaan orang lain. Kedua, aku sangat ingin melindungi teman-teman perempuanku dan tidak ingin kehilangan mereka. Ketiga, sadar tidak sadar aku menyembunyikan banyak hal dari mereka dan meceritakannya kepada laki-laki yang kuanggap (saat itu) lebih mampu menangani bahaya. Keempat, ikatan itu semakin tidak seimbang karna akhirnya aku menyeret laki-laki ini terlalu dalam. Namun saat aku bisa menjelaskannya kepada mereka (dua perempuan berkacamata) aku merasa mereka berusaha mengerti. Sepertinya saat itu kami mengusahakan dan mempertahankan persahabatan ini. Neptunus, persahabatan itu sangat hangat. Tawa mereka, canda mereka, pergumulan mereka, tangis mereka, keluh kesah mereka, cerita mereka, dan mereka menjadi kekuatan yang sangat besar. Berharga. Neptunus, percayalah... aku TIDAK MENANGIS.
Penyesalanku Neptunus, ya penyesalanku. Menyeret seseorang terlalu dalam dan membuatnya berada dalam trauma. Membagi cerita yang tidak seimbang sampai mungkin mereka merasa outgroup. Melibatkan mereka dalam situasi yang berbahaya. Menyulitkan mereka di masa-masaku yang sangat lemah. Menggaggu jam tidur mereka dan mengganggu waktu-waktu belajar mereka di sekolah. Membuat mereka terjerumus dalam masalah yang mungkin jauh dari bayangan mereka. Membuat mereka harus berurusan dengan orang-orang menyeramkan dan membuat mereka terkurung dalam rasa takut. Harusnya dari dulu, kuselesaikan ini sendiri. Neptunus, harusnya mereka tidak perlu merasakan hal-hal mengerikan itu. Harusnya mereka mengisi hari-hari mereka dengan kebahagiaan, dan sepertinya, aku bukanlah orang yang tepat. Neptunus, sampaikan maafku kepada mereka.
Mengenal mereka adalah sebuah keuntungan yang sangat besar bagiku, Neptunus. Aku rindu saat dimana kami benar-benar ada satu sama lain. Aku rindu saat aku bisa menjadi diriku yang sangat bawel, berisik, annoying, ga jelas, dan mereka menerimaku apa adanya. Aku rindu chat-chat ga penting dan bincang-bincang singkat yang kami lakukan dulu. Aku kangen menelepon mereka untuk hal-hal konyol dan sepele. Aku berusaha menyodorkan telingaku, tanganku, tenagaku untuk memperbaiki semuanya. Aku berusaha memberikan hatiku satu-satunya kepada mereka. Neptunus, aku berusaha...... membantu laki-laki berkacamata itu untuk kembali merasakan kasih, namun spertinya aku bukanlah orang yang tepat karena aku menyebabkan dia kehilangan kasih dan terjebak dalam mimpi buruk. aku berusaha, menjawab pertanyaan perempuan berambut lurus itu dan menanyakan kabarnya, namun sekali lagi aku bukan orang yang tepat untuk menjawab pertanyaannya, bahkan beberapa saat aku tidak berhasil menghubunginya. Aku juga berusaha untuk menggapai perempun kacamata berambut tidak benar-benar lurus, namun sekali lagi usahaku tidaklah cukup, aku masih lalai. Neptunus, aku merindukan mereka. Hati ini, raga ini, siap untuk diperintah, siap untuk membantu, kapan saja mereka membutuhkanku. Hanya ini yang kupunya. Namun, seiring waktu berjalan, diam membunuhku perlahan. Setiap malam mimpi buruk membayang. Sampai beberapa hari lalu aku masih sanggup melawannya. Sampai beberapa hari lalu aku masih percaya bahwa apa yang dipersatukan oleh Allah tidak dapat dipisahkan oleh manusia. Lalu seketika aku berfikir, bagaimana jika memang Tuhan inginkan relasi ini untuk berakhir. Neptunus, rasanya hancur. Tapi aku tidak boleh egois. Mereka layak mendapatkan sahabat yang membuat mereka bertumbuh. Mereka harus menemukannya. Neptunus, aku ingin bertemu laut. Aku ingin angin membawa kesediahan ini. Aku ingin berada di dalam air, agar tidak seorang pun melihat bulir-bulir air di wajah ini. Tidak Neptunus, aku tidak menangis......... Biar mereka melihatku yang selalu tersenyum.
Aku tidak menangis. Ini dosaku yang pertama tahun ini.
Aku kuat dan sudah merelakan mereka melupakanku sepenuhnya. Ini dosaku berikutnya
Aku sangat membenci mereka, tidak pernah dan tidak akan mengharapkan mereka untuk kembali, dan tidak akan memikirkan mereka lagi. Ini dosaku yang sangat besar.
Neptunus, terima kasih telah mendengarkan ceritaku. Pesanku, jangan berbohong karna itu sangat sangat menyakitkan.
Minggu, 27 Desember 2015
Kado Natal 2015
Christmas isn't christmas 'till it happend in your heart
i wanna say... Happy birthday Jesus, I'm so glad it's christmas :)
Kado natal tahun ini, rasanya beda dari yang lain..
Pertama, gw menyadari bahwa akhirnya gw bisa satu cm lebih dekat dengan anak-anak warteng. Yeay! Seneng bisa jadi temen mereka (sekalipun mungkin tidak berlaku kebalikan ._.) tapi setidaknya perjuangan deketin mereka setelah sekian lama menghapuskan sedikit jarak yang dulu kaya langit sama bumi. Pertemanan ini emang ga gratis, pengobatan gw mungkin harus makin lama. Yes, my lung is infected, and i'm on a medical treatment for that (which is ga boleh kena rokok ._.) (and one more NEW health problem - yang masih ga jelas apa rupanya) wkwk... But, i can say loudly!! no regret!! It's the one of my happiness this christmas... lebih tau tentang mereka, dan banyak kelebihan mereka.. Ngeliat dinamika interaksi mereka.. Ngeliat cara mereka perhatian dan solid satu sama lain.. That's so sweet.. You know what? i feel love is in the air... Their kind of love.. their way to love other.. thank you warteng, you teach me a lot :)
Kedua, sahabat.
Hai sahabat, yang tahun ini sangat digoyangkan, sangat dicobai, sangat diguncang. Imel, Efi, Samuel, kita semua ngalamin jatuh bangun tahun ini. Penyesalan, dan usaha untuk bangkit kita lakuin bergantian. Lelah, cape, jenuh, dan hilangnya semangat untuk berjuang jadi penghalang yang besar. Tapi, liat!! Natal ini semua perlahan pulih.... Oh God, gw masih percaya ko, apa yang dipersatukan oleh Allah tidak dapat dipisahkan oleh manusia.. Setelah ini, gw masih mengharapkan keajaiban-keajaiban lain untuk hadir di tahun 2016. Menunggu dan tetap menjadi sahabat yang setia.
Ketiga, Kelompok Kecil.
Hey malaikat bertanduk! haha.. bersyukur banget diberi kesempatan untuk kenal lebih dalam dengan kalian. Berdoa bareng, belajar firman bareng, ngegosip bareng #eh hahaha... Berharap KK ini bisa longlast.. Berharap semuanya bisa perjuangin persekutuan kecil ini.. dan berharap bisa menjadi dampak buat banyak orang. Kenapa KK jadi kado natal yang indah? Karena tanpa KK ini, mungkin gw masih bersemayam dalam wilayah gelap. Dalam penyesalan dan keputusasaan. You help me a lot :)
Terakhir, ada hal yang sangat ingin gw syukuri.. yaitu orang tua yang seperti apapun mereka marah, ngomel, ngambek, ketus, dan jutek, gw tau mereka selalu sayang gw.. God really let them love me from the bottom of their heart.. Mereka kenal gw dan tetap menjadi orang tua gw.. mereka yang ada dan ga pernah pergi.. Yes, gw emang bukan orang yang bisa cerita-cerita ke orang tua.. gw bukan anak yang bisa buka lahan buat curhat.. But, when something goes wrong, they have a thousand way to fix it!
And above all, i know The Master of Love still working in my life. Yes, God you still loving me and never give up on me. You know me so well and you never leave me. I often forget about You, but when i come back i find that you're still waiting for me. What kind kind of love that you give for me? I cannot give anything, but You still loving me. Teach me, God. Teach me to love someone else like you love me...
Yes, Happy birthday Jesus...
This me and my heart - the only things that i can give
Jesus, i love You
-Merry Christmas, everyone-
i wanna say... Happy birthday Jesus, I'm so glad it's christmas :)
Kado natal tahun ini, rasanya beda dari yang lain..
Pertama, gw menyadari bahwa akhirnya gw bisa satu cm lebih dekat dengan anak-anak warteng. Yeay! Seneng bisa jadi temen mereka (sekalipun mungkin tidak berlaku kebalikan ._.) tapi setidaknya perjuangan deketin mereka setelah sekian lama menghapuskan sedikit jarak yang dulu kaya langit sama bumi. Pertemanan ini emang ga gratis, pengobatan gw mungkin harus makin lama. Yes, my lung is infected, and i'm on a medical treatment for that (which is ga boleh kena rokok ._.) (and one more NEW health problem - yang masih ga jelas apa rupanya) wkwk... But, i can say loudly!! no regret!! It's the one of my happiness this christmas... lebih tau tentang mereka, dan banyak kelebihan mereka.. Ngeliat dinamika interaksi mereka.. Ngeliat cara mereka perhatian dan solid satu sama lain.. That's so sweet.. You know what? i feel love is in the air... Their kind of love.. their way to love other.. thank you warteng, you teach me a lot :)
Kedua, sahabat.
Hai sahabat, yang tahun ini sangat digoyangkan, sangat dicobai, sangat diguncang. Imel, Efi, Samuel, kita semua ngalamin jatuh bangun tahun ini. Penyesalan, dan usaha untuk bangkit kita lakuin bergantian. Lelah, cape, jenuh, dan hilangnya semangat untuk berjuang jadi penghalang yang besar. Tapi, liat!! Natal ini semua perlahan pulih.... Oh God, gw masih percaya ko, apa yang dipersatukan oleh Allah tidak dapat dipisahkan oleh manusia.. Setelah ini, gw masih mengharapkan keajaiban-keajaiban lain untuk hadir di tahun 2016. Menunggu dan tetap menjadi sahabat yang setia.
Ketiga, Kelompok Kecil.
Hey malaikat bertanduk! haha.. bersyukur banget diberi kesempatan untuk kenal lebih dalam dengan kalian. Berdoa bareng, belajar firman bareng, ngegosip bareng #eh hahaha... Berharap KK ini bisa longlast.. Berharap semuanya bisa perjuangin persekutuan kecil ini.. dan berharap bisa menjadi dampak buat banyak orang. Kenapa KK jadi kado natal yang indah? Karena tanpa KK ini, mungkin gw masih bersemayam dalam wilayah gelap. Dalam penyesalan dan keputusasaan. You help me a lot :)
Terakhir, ada hal yang sangat ingin gw syukuri.. yaitu orang tua yang seperti apapun mereka marah, ngomel, ngambek, ketus, dan jutek, gw tau mereka selalu sayang gw.. God really let them love me from the bottom of their heart.. Mereka kenal gw dan tetap menjadi orang tua gw.. mereka yang ada dan ga pernah pergi.. Yes, gw emang bukan orang yang bisa cerita-cerita ke orang tua.. gw bukan anak yang bisa buka lahan buat curhat.. But, when something goes wrong, they have a thousand way to fix it!
And above all, i know The Master of Love still working in my life. Yes, God you still loving me and never give up on me. You know me so well and you never leave me. I often forget about You, but when i come back i find that you're still waiting for me. What kind kind of love that you give for me? I cannot give anything, but You still loving me. Teach me, God. Teach me to love someone else like you love me...
Yes, Happy birthday Jesus...
This me and my heart - the only things that i can give
Jesus, i love You
-Merry Christmas, everyone-
Sabtu, 28 November 2015
Malaikat-malaikat kecil
Sebenernya, ga mau segampang ini untuk menyatakan kehadiran malaikat. Sesungguhnya, gw juga ga tau malaikat itu kaya apa. Tapi, yang gw tau di deket gw ada tiga malaikat kecil yang hadir dan bertumbuh. Tanpa sayap, tanpa rok tutu, tanpa jubah-jubah putih. Mereka hadir di saat gw mungkin lagi hancur. Ga tau juga kenapa Tuhan percayain mereka ke gw. Satu hal yang pasti adalah mereka menjadi pendukung pemulihan gw.
Dunia sempat terlihat hitam
Sehari berjalan lebih lambat
sampai-sampai jam tidak terlihat bergerak
Kelam yang menghantui, terasa sudah menjadi teman
Teman hadir di saat apapun, dan itulah kelam
Satu per satu hubungan mulai berkarat
Hati mulai hambar
Fisik mulai mati
Semua perlahan
Namun, menyadari bahwa aku bukan satu-satunya
yang merasakan cobaan dan kesusahan
kengerian dan kedukaan
kesedihan dan keputus asaan
Sampai akhirnya, malaikat-malaikat ini datang
Perlahan-lahan memberi hiburan
bukan dengan sukacita semu
bukan dengan kata-kata kosong
tapi dengan kekhawatiran, kesusahan, dan kengerian
Yang sama-sama kami DOAKAN
terima kasih tiga malaikat kecil :)
Dunia sempat terlihat hitam
Sehari berjalan lebih lambat
sampai-sampai jam tidak terlihat bergerak
Kelam yang menghantui, terasa sudah menjadi teman
Teman hadir di saat apapun, dan itulah kelam
Satu per satu hubungan mulai berkarat
Hati mulai hambar
Fisik mulai mati
Semua perlahan
Namun, menyadari bahwa aku bukan satu-satunya
yang merasakan cobaan dan kesusahan
kengerian dan kedukaan
kesedihan dan keputus asaan
Sampai akhirnya, malaikat-malaikat ini datang
Perlahan-lahan memberi hiburan
bukan dengan sukacita semu
bukan dengan kata-kata kosong
tapi dengan kekhawatiran, kesusahan, dan kengerian
Yang sama-sama kami DOAKAN
terima kasih tiga malaikat kecil :)
Selasa, 24 November 2015
Usaha untuk setia
First, tepuk tangan buat x000 viewer (x disensor biar ga dibilang norak)
Hmm.. Kemudian, ada sedikit cerita tentag rumah. Ya, rumah. Menarik saat sadar kalo ternyata rumah sangat setia. Rumah ga pernah marah waktu ditinggal bahkan sama hampir semua penghuninya. Rumah ga ngambek sekalipun mungkin jarang diperhatiin atau diperhatiin saat momen-momen tertentu aja. Rumah memang kadang terbuang tapi selalu ada untuk tempat kembali pulang.
Mau belajar jadi rumah. Bagi mereka yang terbuang. Bagi mereka yang terhilang. Bagi mereka yang ga tau arah tujuan. Bagi mereka yang mencari tempat untuk pulang.
Tapi... sebelum itu...
Mau belajar jadi sahabat, yang kaya rumah. Apapun yang terjadi, tetap setia untuk tempat kembali pulang.
Pernyataan ini ga berarti gw udah pulih. Bukan berarti masalah gw hilang kandas ditelan angin selatan-_- Tapi, seperti yang sudah pernah terjadi, perlahan-lahan semuanya pulih saat membantu orang lain pulih.
Sekalipun rasanya cuma seonggok daging pembawa sial, tapi Dia bisa pake apa aja untuk jadi berkat.. Semoga saya masuk dalam kategori "apa aja" itu ya...
Hem, Good night people.. Have a nice dream.. Fighting!
Hmm.. Kemudian, ada sedikit cerita tentag rumah. Ya, rumah. Menarik saat sadar kalo ternyata rumah sangat setia. Rumah ga pernah marah waktu ditinggal bahkan sama hampir semua penghuninya. Rumah ga ngambek sekalipun mungkin jarang diperhatiin atau diperhatiin saat momen-momen tertentu aja. Rumah memang kadang terbuang tapi selalu ada untuk tempat kembali pulang.
Mau belajar jadi rumah. Bagi mereka yang terbuang. Bagi mereka yang terhilang. Bagi mereka yang ga tau arah tujuan. Bagi mereka yang mencari tempat untuk pulang.
Tapi... sebelum itu...
Mau belajar jadi sahabat, yang kaya rumah. Apapun yang terjadi, tetap setia untuk tempat kembali pulang.
Pernyataan ini ga berarti gw udah pulih. Bukan berarti masalah gw hilang kandas ditelan angin selatan-_- Tapi, seperti yang sudah pernah terjadi, perlahan-lahan semuanya pulih saat membantu orang lain pulih.
Sekalipun rasanya cuma seonggok daging pembawa sial, tapi Dia bisa pake apa aja untuk jadi berkat.. Semoga saya masuk dalam kategori "apa aja" itu ya...
Hem, Good night people.. Have a nice dream.. Fighting!
Minggu, 01 November 2015
Semakin buruk dan memburuk
Batu yang terus terkikis panas, air, dan angin pun akan habis tak bersisa.
Bahkan aku tak sekuat batu.
Mencoba untuk ga mengasihani diri sendiri dan akhirnya dikurung dalam kata-kata menyiksa diri sendiri. Harus apa? Makin lama makin gelap, dan terlihat baik untuk meninggalkan semuanya.
Siapa yang peduli? Aku cuma manusia terlupakan yang bahkan ga layak jadi kenangan.
Bahkan aku tak sekuat batu.
Mencoba untuk ga mengasihani diri sendiri dan akhirnya dikurung dalam kata-kata menyiksa diri sendiri. Harus apa? Makin lama makin gelap, dan terlihat baik untuk meninggalkan semuanya.
Siapa yang peduli? Aku cuma manusia terlupakan yang bahkan ga layak jadi kenangan.
Selasa, 27 Oktober 2015
What's going on?
Tidak jelas.
Buram.
Muram.
Sedang dalam masalah yang pelik. Bukan masalah yang lumrah untuk disebarkan. Masalah yang berkutat di situ-situ saja. Bosan. Kau tahu kata bosan? Jenuh. OH.. tidak tidak... Saya lelah. Hmm mungkin memang tidak ada kata yang tepat atau saya memang sedang melebih-lebihkan segalanya.
Iblis memang jago memanipulasi ya. Perasaan harusnya anugerah, tapi hati yang gersang sepertinya memang jadi sasaran empuk bagi si jahat. Oh ya, saya tahu itu. Tapi, apa yang harus saya perbuat?
Saya simpan ini sendiri. Cukup kuat untuk beberapa lama. Entahlah, mungkin memang saya terlahir sebagai anak tunggal untuk dilatih menghadapi ini sendiri. Semua ada maksudnya kan? Yup. Bukan merasa tangguh, atau gengsi untuk minta tolong. Sepertinya memang bukan pilihan tepat untuk membagi ini dengan orang lain - tentu mereka punya masalah masing-masing.
Kutahu dan kupaham semua orang punya masalah masing-masing. Milikku bukan yang terparah. Akan kusimpan bagi diriku sendiri. Sekalipun mungkin aku akan habis digerus, retak, dan hilang tak bersisa, setidaknya aku mencoba.
Aku memang butuh teman. Aku butuh kalian. Tapi orang lain di luar sana, lebih membutuhkan kalian. (I wish) I'm fine.
Seperti yang kuduga, ga akan ada orang yang bertahan lama disampingku. haha. seperti yang kuduga.
Buram.
Muram.
Sedang dalam masalah yang pelik. Bukan masalah yang lumrah untuk disebarkan. Masalah yang berkutat di situ-situ saja. Bosan. Kau tahu kata bosan? Jenuh. OH.. tidak tidak... Saya lelah. Hmm mungkin memang tidak ada kata yang tepat atau saya memang sedang melebih-lebihkan segalanya.
Iblis memang jago memanipulasi ya. Perasaan harusnya anugerah, tapi hati yang gersang sepertinya memang jadi sasaran empuk bagi si jahat. Oh ya, saya tahu itu. Tapi, apa yang harus saya perbuat?
Saya simpan ini sendiri. Cukup kuat untuk beberapa lama. Entahlah, mungkin memang saya terlahir sebagai anak tunggal untuk dilatih menghadapi ini sendiri. Semua ada maksudnya kan? Yup. Bukan merasa tangguh, atau gengsi untuk minta tolong. Sepertinya memang bukan pilihan tepat untuk membagi ini dengan orang lain - tentu mereka punya masalah masing-masing.
Kutahu dan kupaham semua orang punya masalah masing-masing. Milikku bukan yang terparah. Akan kusimpan bagi diriku sendiri. Sekalipun mungkin aku akan habis digerus, retak, dan hilang tak bersisa, setidaknya aku mencoba.
Aku memang butuh teman. Aku butuh kalian. Tapi orang lain di luar sana, lebih membutuhkan kalian. (I wish) I'm fine.
Seperti yang kuduga, ga akan ada orang yang bertahan lama disampingku. haha. seperti yang kuduga.
Langganan:
Postingan (Atom)