Aku bukan orang yang sempurna.
Pernah, sering dan ada saatnya gw ngerasa sedih banget liat keadaan beberapa orang yang menurut gw baik. Mereka seharusnya bisa jadi baik. Entah kenapa, gw punya perasaan yang menyatakan kalau mereka ga seharusnya berperilaku kaya gitu. Mungkin, sebatas mungkin..... gw mengasihi mereka.
Suatu kali, gw ada di puncak kekecewaan gw. Sedih. Gatau kenapa, harapan gw sangat besar dan saat itu rasanya menguap begitu aja. Sedihnya, ampe ke ubun-ubun. Sungguh, ga boong.
Setelah perasaan kecewa dan sedih itu, muncullah perasaan ga enak (entah apa namanya). Sampai akhirnya, seseorang chat gw di line. Berita sukacita. Yup!! Sangat sukacita. Satu sisi gw merasa bersyukur dan spechless sama kuasa Tuhan. Tapi, di sisi lain, gw merasa kenapa Tuhan kasih tanggung jawab yang sangat besar buat gw? Kenapa Tuhan mempercayakan hal yang sangat besar sama gw yang sedang hancur???
Sampai akhirnya, gw persiapan buat kelompok kecil. Waktu itu bahas tentang Roma 9 : 1-29.
Lewat Roma, gw diajak berpetualang bersama Paulus. Awalnya, gw turut merasakan rintihan hati Paulus atas kondisi bangsa Israel (perhatikan bagian ini, kondisi bangsa Israel mirip dengan kondisi beberapa orang yang sedang gw kasihi). Kemudian, dibawa untuk mengetahui beberapa hal. Ya, mereka memang pilihan Tuhan. Oh, ya benar Tuhan punya kuasa untuk membentuk ciptaannya, menjadi peran antagonis ataupun protagonis. Ya, adil untuk Tuhan tidak bisa diukur dengan ukuran adil manusia. Bukan keturunan yang menentukan status "anak". Ada masanya Tuhan panggil mereka yang bukan umatNya menjadi umatNya! Itu DAULAT TUHAN. OTORITAS TUHAN.
Astaga, gw ga tau lagi harus meresponi persiapan itu seperti apa.
Tuhan berbicara tepat sama gw melalui hal yang gw lewatin.
Tuhan menyatakan langsung dan mengaplikasikan langsung FirmanNya lewat pengalaman hidup gw.
Saat itu juga, gw merasakan makna dari Daulat Tuhan.
"Ya Tuhan, mengucap syukur, Kau setia menggapai aku yang menjauh sekalipun. Aku yang hancur dan aku yang merasa kosong. Kau buka mataku dengan caraMu sendiri."
Kamis, 13 Agustus 2015
Selasa, 21 Juli 2015
Kabar Dukacita
Satu lagi kabar dukacita yang menusuk di tahun ini.
Setelah sebelumnya, Deni dan Bang Monce pergi mendahului, sekarang Om Lulu yang tenpa disangka-sangka pergi. Belum beberapa lama, beliau baru ngomel sama gw karena kesehatan yang ga baik-baik dan gw yang susah banget disuruh istirahat. Sampe akhirnya, gw pergi retreat remaja tanggal 8-10 Juli kemarin dan kehilangan kontak sama sekali dengan beliau. Aneh sih rasanya ga dicerewetin untuk sekian hari. Tapi, perasaan awalnya biasa aja. Lama-kelamaan janggal juga.
Tiba-tiba, pas lagi nunggu kabar tentang temen lain yang namanya Iqbal yang juga lagi ga sehat, malah dikejutkan sama kabar buruk. Berasa dikejutin listrik 1000 volt. Lebay sih emang, tapi sungguh kagetnya bukan main. Ternyata, Om Lulu kecelakaan dan keadaannya parah. Berita itu baru sampe di kuping gw beberapa hari setelah beliau kecelakaan dan tak kunjung sadarkan diri.
Di saat kaya gitu, gw ga bisa ngapa-ngapain. Gw cuma bisa menunggu dan pasrah (awalnya). Sampai gw sadar bahwa kemungkinan besar gw diminta untuk berserah. Bukan pasrah dan meratapi. Tapi berserah dan menyadari sepenuhnya kalau apapun yang terjadi itulah yang terbaik.
Kemarin... Yup, benar-benar kemarin... Om Lulu sadar untuk terakhir kalinya. Meninggal jam 8 malem tanggal 20 Juli 2015. Sepertinya, memang tugas beliau sudah selesai. Ikhlas, tapi masih sedih. Wajar, gw manusia. Sedih banget malah. Tapi, manis inget apa aja yang udah terjadi. Tapi sedih. Bodo amat-_-
Setelah sebelumnya, Deni dan Bang Monce pergi mendahului, sekarang Om Lulu yang tenpa disangka-sangka pergi. Belum beberapa lama, beliau baru ngomel sama gw karena kesehatan yang ga baik-baik dan gw yang susah banget disuruh istirahat. Sampe akhirnya, gw pergi retreat remaja tanggal 8-10 Juli kemarin dan kehilangan kontak sama sekali dengan beliau. Aneh sih rasanya ga dicerewetin untuk sekian hari. Tapi, perasaan awalnya biasa aja. Lama-kelamaan janggal juga.
Tiba-tiba, pas lagi nunggu kabar tentang temen lain yang namanya Iqbal yang juga lagi ga sehat, malah dikejutkan sama kabar buruk. Berasa dikejutin listrik 1000 volt. Lebay sih emang, tapi sungguh kagetnya bukan main. Ternyata, Om Lulu kecelakaan dan keadaannya parah. Berita itu baru sampe di kuping gw beberapa hari setelah beliau kecelakaan dan tak kunjung sadarkan diri.
Di saat kaya gitu, gw ga bisa ngapa-ngapain. Gw cuma bisa menunggu dan pasrah (awalnya). Sampai gw sadar bahwa kemungkinan besar gw diminta untuk berserah. Bukan pasrah dan meratapi. Tapi berserah dan menyadari sepenuhnya kalau apapun yang terjadi itulah yang terbaik.
Kemarin... Yup, benar-benar kemarin... Om Lulu sadar untuk terakhir kalinya. Meninggal jam 8 malem tanggal 20 Juli 2015. Sepertinya, memang tugas beliau sudah selesai. Ikhlas, tapi masih sedih. Wajar, gw manusia. Sedih banget malah. Tapi, manis inget apa aja yang udah terjadi. Tapi sedih. Bodo amat-_-
Selasa, 23 Juni 2015
Adakah orang baik?
Tahukah bahwa sesungguhnya ketika engkau menemukan orang baik, mungkin saja dia bukan orang baik. Mungkin saja dia hanya seseorang yang tidak mampu mengekspresikan kejahatannya. mungkin saja dia hanya menyimpannya untuk diri sendiri. mungkin..
apa sebenarnya definisi orang baik? Apa tolak ukur kebaikan? Bagaimana seseorang dapat benar-benar dikatakan baik?
Manusia menyimpan benih keberdosaan dalam diri mereka. Dosa turunan, dosa warisan, yeah whatever. Ketika definisi orang baik adalah orang yang senantiasa melakukan kebaikan, adakah manusia yang seumur hidupnya melakukan hanya hal baik? Lalu, ketika seseorang berbuat dosa, apakah dia murni bukan orang baik?
Hal yang baru saja aku pelajari..
Manusia memang hidup di dalam dosa. Ada natur dan keinginan untuk berbuat dosa. Namun, kerap kali manusia dengan liciknya berusaha untuk menyuap Tuhan, menyogokNya dengan berbagai perbuatan baik. Sehabis marah dengan seseorang, kita akan berdoa kepada Tuhan dengan lebih lama dan lebih intens, seakan-akan dengan demikian dosa kita dapat ditutupi. Lakukan kesalahan sebanyak-banyaknya dan kemudian lakukan disiplin rohani sebanyak-banyaknya, maka hal itu akan seimbang. benarkah demikian?
Tentu tidak!
Mengingat bahwa manusia menjadi layak dan selamat karena diselamatkan oleh Yesus Kristus. Diluar itu, kita MATI. Satu-satunya hal yang membuat kita masih layak untuk disebut anak adalah kenyataan bahwa Tuhan yang mengangkat kita menjadi anak. Lalu, relevankah usaha kita untuk menutupi dosa dengan perbuatan baik?
hmm.. sayangnya tidak..
Bagaikan seorang bayi yang tidak dapat berbuat apa-apa, hanya bisa menangis ketika membutuhkan sesuatu, membangunkan Raja bahkan sebelum matahari terbit, itulah kapasitas sekaligus keistimewaan kita. Menyadari bahwa kita tidak bisa apa-apa. Sampai Roh Tuhan yang mengalahkan kedagingan kita, membawa kita pada kebergantungan penuh kepada Tuhan.
Susah? Ya emang. Kata siapa gampang?-_-
Masih belajar. Masih mencoba. Masih meminta untuk disanggupkan.
Jadi, adakah orang baik?
Menurutku, yang ada adalah orang yang senantiasa bersedia diperbaiki. Yah, cukup baik lah.. haha..
apa sebenarnya definisi orang baik? Apa tolak ukur kebaikan? Bagaimana seseorang dapat benar-benar dikatakan baik?
Manusia menyimpan benih keberdosaan dalam diri mereka. Dosa turunan, dosa warisan, yeah whatever. Ketika definisi orang baik adalah orang yang senantiasa melakukan kebaikan, adakah manusia yang seumur hidupnya melakukan hanya hal baik? Lalu, ketika seseorang berbuat dosa, apakah dia murni bukan orang baik?
Hal yang baru saja aku pelajari..
Manusia memang hidup di dalam dosa. Ada natur dan keinginan untuk berbuat dosa. Namun, kerap kali manusia dengan liciknya berusaha untuk menyuap Tuhan, menyogokNya dengan berbagai perbuatan baik. Sehabis marah dengan seseorang, kita akan berdoa kepada Tuhan dengan lebih lama dan lebih intens, seakan-akan dengan demikian dosa kita dapat ditutupi. Lakukan kesalahan sebanyak-banyaknya dan kemudian lakukan disiplin rohani sebanyak-banyaknya, maka hal itu akan seimbang. benarkah demikian?
Tentu tidak!
Mengingat bahwa manusia menjadi layak dan selamat karena diselamatkan oleh Yesus Kristus. Diluar itu, kita MATI. Satu-satunya hal yang membuat kita masih layak untuk disebut anak adalah kenyataan bahwa Tuhan yang mengangkat kita menjadi anak. Lalu, relevankah usaha kita untuk menutupi dosa dengan perbuatan baik?
hmm.. sayangnya tidak..
Bagaikan seorang bayi yang tidak dapat berbuat apa-apa, hanya bisa menangis ketika membutuhkan sesuatu, membangunkan Raja bahkan sebelum matahari terbit, itulah kapasitas sekaligus keistimewaan kita. Menyadari bahwa kita tidak bisa apa-apa. Sampai Roh Tuhan yang mengalahkan kedagingan kita, membawa kita pada kebergantungan penuh kepada Tuhan.
Susah? Ya emang. Kata siapa gampang?-_-
Masih belajar. Masih mencoba. Masih meminta untuk disanggupkan.
Jadi, adakah orang baik?
Menurutku, yang ada adalah orang yang senantiasa bersedia diperbaiki. Yah, cukup baik lah.. haha..
Rabu, 10 Juni 2015
Kembali mengeluh
Haha.. siap-siap sama postingan yang isinya keluhan. Kesedihan dan kekecewaan sama diri sendiri. (kan ngeluh mulu-_-)
Hari ini, besok, minggu depan mungkin keadaannya ga jauh beda. Mungkin tambah parah, mungkin juga engga. Blackout udah biasa. Mungin aja pergi tiba-tiba pas lagi blackout. Ga ada yang tau. Gw rasanya belom siap. Bukan karna taut hadepinnya. Gw justru takut apa yang gw lakuin belum maksimal. APA YANG UDAH GW LAKUIN DI DUNIA INI? Nah nah kan.. bingung juga jawabnya.. Masa mau bilang "makan, tidur, makan, tidur, belajar dikit". yakali dah-_-
Eh eh, jangan salah paham yak, bukannya gw pesimis.. wkwk.. gw masih niat jadi orang bugar ko. Ini mah saya lagi bayangin aja. Andaikan apabila bilamana hal itu terjadi...... gitu..
Hmm.. ngomong-ngmong udah lama ga bikin puisi.. nih satu untuk sekian lama..
Hitam tetaplah hitam
Tetapi di balik hitam mungkin akan timbul secercah cahaya
Tetapi di balik hitam mungkin mengalir sejumlah harapan
Tetapi di balik hitam mungkin membuncah sebongkah semangat
Hitam tetaplah hitam
Kadang terasa begitu gelap
Kadang terasa pekat mencekam
Kadang terasa berderai luka berdarah
Hitam tetaplah hitam
Namun lihatlah tangan yang terulur
Namun lihatlah Pribadi yang setia
Namun lihatlah dengan mata hatimu
Hitam tetaplah hitam
Akan tetapi Harapan tetaplah harapan
Hari ini, besok, minggu depan mungkin keadaannya ga jauh beda. Mungkin tambah parah, mungkin juga engga. Blackout udah biasa. Mungin aja pergi tiba-tiba pas lagi blackout. Ga ada yang tau. Gw rasanya belom siap. Bukan karna taut hadepinnya. Gw justru takut apa yang gw lakuin belum maksimal. APA YANG UDAH GW LAKUIN DI DUNIA INI? Nah nah kan.. bingung juga jawabnya.. Masa mau bilang "makan, tidur, makan, tidur, belajar dikit". yakali dah-_-
Eh eh, jangan salah paham yak, bukannya gw pesimis.. wkwk.. gw masih niat jadi orang bugar ko. Ini mah saya lagi bayangin aja. Andaikan apabila bilamana hal itu terjadi...... gitu..
Hmm.. ngomong-ngmong udah lama ga bikin puisi.. nih satu untuk sekian lama..
Hitam tetaplah hitam
Tetapi di balik hitam mungkin akan timbul secercah cahaya
Tetapi di balik hitam mungkin mengalir sejumlah harapan
Tetapi di balik hitam mungkin membuncah sebongkah semangat
Hitam tetaplah hitam
Kadang terasa begitu gelap
Kadang terasa pekat mencekam
Kadang terasa berderai luka berdarah
Hitam tetaplah hitam
Namun lihatlah tangan yang terulur
Namun lihatlah Pribadi yang setia
Namun lihatlah dengan mata hatimu
Hitam tetaplah hitam
Akan tetapi Harapan tetaplah harapan
Senin, 25 Mei 2015
I was writing deeply
Emang bener kalo kata orang, kemampuan itu ada karena diasah.
Udah lama banget ga nulis lho ini. Kenapa ya, rasanya jadi canggung.
Pernah ketemu sama mantan yang udah lama ga ketemu?
Gw sih belom pernah........ haha~
Tapi kayanya begitulah kira-kira rasanya.
Dulu, buat ungkapin gelisah, kalo kata teori yang gw pelajarin sekarang (drive reduction theory) buat mereduksi sebuah dorongan (dalam hal ini kegelisahan) maska saya akan menulis (atau paling tidak mengetik).
Bingung? sama. Ha-_-
Menulis itu, dulu udah kegiatan sehari-hari. Selain buat nugas, nulis juga biasa gw lakuin. Bahkan dulu gw menulis hal yang ga penting di tengah pelajaran. hahaha. Dasar pani-_-
Tapi, sekarang kata orang sih hobi yang kemakan kesibukan. Mau aktif nulis lagi ah. Masih mau jadi novelis.
Sekian cuap-cuap dari saya, permisi... Mau silaturahmi dulu sama mantan (baca: kegiatan tulis menulis)
Udah lama banget ga nulis lho ini. Kenapa ya, rasanya jadi canggung.
Pernah ketemu sama mantan yang udah lama ga ketemu?
Gw sih belom pernah........ haha~
Tapi kayanya begitulah kira-kira rasanya.
Dulu, buat ungkapin gelisah, kalo kata teori yang gw pelajarin sekarang (drive reduction theory) buat mereduksi sebuah dorongan (dalam hal ini kegelisahan) maska saya akan menulis (atau paling tidak mengetik).
Bingung? sama. Ha-_-
Menulis itu, dulu udah kegiatan sehari-hari. Selain buat nugas, nulis juga biasa gw lakuin. Bahkan dulu gw menulis hal yang ga penting di tengah pelajaran. hahaha. Dasar pani-_-
Tapi, sekarang kata orang sih hobi yang kemakan kesibukan. Mau aktif nulis lagi ah. Masih mau jadi novelis.
Sekian cuap-cuap dari saya, permisi... Mau silaturahmi dulu sama mantan (baca: kegiatan tulis menulis)
Kamis, 04 Desember 2014
Katanya itu klise
Biarkanku memelukmu tanpa memelukmu
Mengagumimu dari jauh
Aku menjagamu tanpa menjagamu
Menyayangimu dari jauh
Mengagumimu dari jauh
Aku menjagamu tanpa menjagamu
Menyayangimu dari jauh
Bukan tak percaya diri
Karena aku tahu diri
Karena aku tahu diri
Bait lagunya, katanya klise.
Tapi lagunya ga salah ko..
Ada sebagian orang yang kalaupun dibilang bodoh
Mau liat orang lain tersenyum :)
"Aku mengucap syukur kepada Allahku, setiap kali aku mengingat engkau dalam doaku,"
Filemon 1: 4
Selamat Pagi dunia~
Kamis, 06 November 2014
Buat aku, kita, dan mereka
Belakangan ngerasa ada di lingkungan yang mungkin menurut mereka, mereka ada di atas.
Lebih tinggi ataupun lebih baik dari yang lain, hanya karna yang dilakukan lebih sukses atau terlihat lebih mulia.
Menghindar dari ladang yang satu dan mendewakan ladang yang lain.
Seperti inikah seharusnya?
Belakangan mulai merasa banyak kemiripan di antara mereka.
Kesan negatif saling dilontarkan.
Yang satu merasa yang lain terlalu suci.
Yang satu merasa yang lain terlalu duniawi.
Tapi sebatas protes, komentar, bahkan kritik tak mendasar.
Memilih bersikap skeptis satu sama lain.
Berada di tengah bukan berarti menjadi pihak abu-abu.
Tapi mengikut salah satu pun tidak lantas membuatnya menjadi putih ataupun hitam.
Ingin melihat hati yang tulus. Yang mau membantu bukan malah membiarkan.
Apa indahnya melihat orang jatuh, sekalipun kita ada di atas?
Mana uluran tangan yang sudah dinikmati? Bukankah seharusnya kita menawarkannya pada orang lain?
Mana gambaran Tuhan yang harusnya terlihat itu?
Apakah ini tentang tingkatan? Apakah semuanya tentang rasa nyaman?
Apa nyamannya melihat bagian lain runtuh dan hancur begitu saja?
APAKAH AKU, KAMU, KITA, SUDAH LEBIH BAIK DARI MEREKA?
Dibantu, bukan dijauhi.
Ditolong, bukan direndahkan.
Diajak, bukan ditinggalkan.
Perhatian, bukan sikap skeptis.
Jangan jadikan doa sebagai senjata terakhir.
Pertolongan dari awal harus disertai doa.
Ayolah, melayani dengan dasar pelayanan, bukan pekerjaan.
Ajari aku. Kalau memang aku bersalah.
Marahi aku kalau memang aku salah.
Tapi sertakan jalan keluar.
buat aku, kita, dan mereka.
-Seseorang yang merindukan senyuman Tuhan
Lebih tinggi ataupun lebih baik dari yang lain, hanya karna yang dilakukan lebih sukses atau terlihat lebih mulia.
Menghindar dari ladang yang satu dan mendewakan ladang yang lain.
Seperti inikah seharusnya?
Belakangan mulai merasa banyak kemiripan di antara mereka.
Kesan negatif saling dilontarkan.
Yang satu merasa yang lain terlalu suci.
Yang satu merasa yang lain terlalu duniawi.
Tapi sebatas protes, komentar, bahkan kritik tak mendasar.
Memilih bersikap skeptis satu sama lain.
Berada di tengah bukan berarti menjadi pihak abu-abu.
Tapi mengikut salah satu pun tidak lantas membuatnya menjadi putih ataupun hitam.
Ingin melihat hati yang tulus. Yang mau membantu bukan malah membiarkan.
Apa indahnya melihat orang jatuh, sekalipun kita ada di atas?
Mana uluran tangan yang sudah dinikmati? Bukankah seharusnya kita menawarkannya pada orang lain?
Mana gambaran Tuhan yang harusnya terlihat itu?
Apakah ini tentang tingkatan? Apakah semuanya tentang rasa nyaman?
Apa nyamannya melihat bagian lain runtuh dan hancur begitu saja?
APAKAH AKU, KAMU, KITA, SUDAH LEBIH BAIK DARI MEREKA?
Dibantu, bukan dijauhi.
Ditolong, bukan direndahkan.
Diajak, bukan ditinggalkan.
Perhatian, bukan sikap skeptis.
Jangan jadikan doa sebagai senjata terakhir.
Pertolongan dari awal harus disertai doa.
Ayolah, melayani dengan dasar pelayanan, bukan pekerjaan.
Ajari aku. Kalau memang aku bersalah.
Marahi aku kalau memang aku salah.
Tapi sertakan jalan keluar.
buat aku, kita, dan mereka.
-Seseorang yang merindukan senyuman Tuhan
Langganan:
Komentar (Atom)
