Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 September 2012

Rhoza Kingdom (4)

Pangeran Chamer merintih kesakitan. Bahkan Sachiel dan Thomp yang sudah berusaha mencegah serangan mage itu pun tak dapat melindungi Pangeran Chamer. Namun, hal itu tidak mengurangi konsentrasi perang mereka. Pertempuran tetap berlangsung, begitu sengit dan cepat, sampai-sampai Seven Pearl yang lain tidak dapat berbuat banyak. Sesaat kemudian pertarungan itu terhenti, keringat bercucuran, angin berhembus, dan mage tergeletak tertusuk panah. Tapi, tak jauh dari situ, Sachiel dan Thomp juga terlihat tak sadarkan diri.

"Terlalu banyak korban, aku butuh lebih banyak tumbuhan obat."seru Iona.
"Baik, akan segera kucari. Kumohon, selamatkan pangeran Chamer... dan yang lain." kata Eclipta dengan mata memerah.
"Aku berjaga di sini, mendampingi Iona. Eclipta... hati-hati." kata Yacelyn pelan.

Eclipta mengangguk pelan dan segera berlari mencari tanaman obat. Di saat yang bersamaan Sachiel terbangun. Ia mengusap bahunya yang sedikit terluka dengan muka yang tampak bingung sambil memandang sekeliling.

"Hei, pertarungannya sudah selesai? Kenapa sepi sekali?" tanya Sachiel polos.
"Bodoh, sudah bagus kalian mengalahkan mage itu." tukas Yacelyn.
"Seharusnya aku yang berkata begitu. ckckck.. Iona, tak adakah makanan yang bisa kumakan. Perutku mulai lapaar~" keluh Sachiel.
"Hah, kau ini. Tunggu di sana, akan kuambilkan" kata Iona seraya mengambil makanan.
"Yacelyn, beritahu aku siapa yang mengalahkan mage itu!" kata Sachiel bersemangat.
"Yah, aku tidak tau pasti, tapi sepertinya panahmu berhasil menembus jantungnya."
"Yipiiiie~" teriak Sachiel sambil melompat. Yacelyn memukul kepala Sachiel karna kesal tamannya tak bisa diam. Sachiel pun meminta maaf saat menyadari suaranya dapat mengganggu temannya yang masih belum sadar.

Tiba-tiba pangeran Chamer meringis kesakitan. Sekujur tubuhnya bergetar hebat dan lukanya mengalami pendarahan. Yacelyn yang panik berlari memanggil Iona. Sachiel yang merasa bersalah mencoba membersihkan luka pangeran Chamer. Untungnya, Iona cepat datang dan meracik obat yang tersisa. Melumuri luka pangeran dan membuat pangeran Chamer meneguk paksa obat racikan Iona. Untungnya hal itu berhasil membuat tubuh pangeran stabil perlahan.

Tapi ketenangan itu tidak berlangsung lama. Tubuh Rein dan Thomp seperti berasap. Tubuh mereka pun bergetar dan ada pembengkakan di beberapa bagian. Iona berfikir keras mencoba mencari cara meracik obat tambahan ketika Eclipta datang. Yacelyn dan Sachiel diminta untuk membuat ramuan obat sementara Iona menyembuhkan Pangeran Chamer. Eclipta bersiaga, waspada bilamana musuh kembali menyerang. Saat itu semua sibuk. Sangat sibuk sampai tidak menyadari sepasang mata mengawasi mereka.

"Indah, benar-benar indah. Persahabatan kalian yang sudah diban/gun dari lahir memang tidak lagi diragukan. Tapi... apakah setelah ini kalian akan tetap bersahabat?"

Sosok misterius itu mengamati.

Bersambung~

Kamis, 14 Juni 2012

Rhoza Kingdom

Rhoza kingdom, kerajaan yang indah dengan raja menawan yang bijaksana bernama Leverian. Raja yang telah memimpin selama lebih dari 30 tahun itu memiliki putra mahkota yang bersifat usil dan baik hati bernama Chamer. Kerajaan itu damai dan diwarnai dengan kisah cinta sang putra mahkota.

Hari itu Raja Leverian mengajak putranya berbicara di ruang baca. Ia memerintahkan Jash untuk memanggil putra kesayangannya itu, namun Jash kembali hanya dengan secarik kertas bertuliskan "Sepertinya ayah butuh waktu untuk berjalan di taman mawar buatan ibu". Raja Leverian tersenyum, anaknya tau bagaimana menyentuh hatinya. Ya, selalu tau.

Raja memutuskan untuk mengikuti keinginan putranya. Dia berharap dapat menanggalkan beban sejenak dengan merasakan kembali kehadiran permaisuri kesayangannya di Taman Mawar itu. Taman itu hampir mirip labirin. Hanya penghuni kerajaan yang tahu keindahan yang tersimpan di dalamnya. Tempat itu, dulu, tempat sang permaisuri menghabiskan sebagian harinya. Duduk, diam, menulis, bernyanyi, melukis, semuanya tampak anggun dilakukannya. Sang putra mahkota pun tumbuh di taman mawar itu. Bermain bersama 2 putra dan 4 putri bangsawan yang tinggal di istana tersebut. Mereka biasa disebut "The Seven Pearl". Raja begitu menikmati suasana sore itu. Hangat dan nyaman. Ia duduk di sana, mengambil buku, dan mulai menulis.

Di tempat lain, the seven pearl sedang bersiap untuk berkuda. Masing-masing pribadi dengan kudanya yang berbeda. Saat itu, pangeran Chamer lupa bahwa seharusnya ia menemani ayahnya di taman mawar. Ya, salah satu kebiasaan buruk pangeran Chamer adalah dengan mudah melupakan hal yang penting. Tapi, sebagai bagian dari the seven pearl, Chamer bukan satu-satunya orang yang memiliki kelemahan. Mereka saling melengkapi.

Tromp, cuek, pantang menyerah, dan mampu membuat senjata yang mematikan. Rein, kasar namun berhati lembut, seorang pembuat strategi bertahan yang tangguh. Yacelyn, manja, cantik dan bersemangat, seseorang dengan insting yang tajam. Eclipta, sensitif, teguh dan anggun, seorang medis yang hebat. Iona, cerdas, pendiam dan teoritis, ahli pengukur dan tanaman obat. Sachiel, keras kepala, kuat, dan ceria, seorang pemanah unggul. Chamer, Tromp, Rein, Yacelyn, Eclipta, Iona, dan Sachiel, merekalah the seven pearl. Ksatria penerus Rhoza Kingdom.

Sore itu, Raja Leverian menulis semuanya dan tertidur dalam damai...
"Anakku Chamer, tangguhlah dirimu dalam peperangan, bijaksanalah terhadap rakyatmu, kasihilah sahabatmu, hargailah tentara dan semua bawahanmu, kenanglah ayah dan ibumu, senyumlah untuk kemenangan, tegaplah menghadapi kekalahan. Carilah pasangan yang kau sayangi dan mampu mendukungmu memerintah Rhoza Kingdom. Karena dirimulah satu-satunya pangeran di negri ini. Habis sudah waktuku nak, kini aku harus menyusul ibumu, memberikanmu kesempatan untuk menapaki kuasa atas negrimu. Ingatlah nasihatku dan jadilah yang terbaik. Ayahmu, Leverian."
Hari itu Rhoza Kingdom berduka, Chamer merasakan kegetiran di hatinya, menyesalkan pertemuan terakhir yang dilewatkannya. Diukirnya kata-kata terakhir ayahnya itu di dalam hatinya. Kini, Pangeran Chamer menghadapi lembaran baru di hidupnya.

Bersambung~