Rabu, 20 Juli 2016

(Tidak) Menikah

Menikah.



Waw. Greget.

Manikah secara KBBI artinya:
"Melakukan nikah"  Yak, kalo yang ini saya juga tau-_- hahaha..
Nikah dalam KBBI:
"Ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama"
Nah, pertama.. baca baik-baik gengs, menikah harus dilakukan sesuai ketentuan hukum dan agama. bukan hukum atau agama. hehe...

Hmm.. Okay, sekarang masuk ke topik gw. Sejujurnya ini berjauhan dengan aturan hukum dan agama sih. Ini mungkin postingan untuk menjawab kenapa gw ga pacaran sampe sekarang. (selain karna emang ga laku, wkwk - ngga deng, canda)

Gini, pacaran adalah proses menuju pernikahan. Yap! Gw salah satu orang yang memegang pemahaman itu. Bukan berarti gw maunya sekali pacaran untuk selamanya, harus terima pacar pertama sampe mati nanti. Ya ga gitu juga sih-_- Tapi, pacaran tetep bukan hal yang main-main menurut gw. Ada proses pembelajaran dan pendewasaan dalam pacaran. Itu berarti pacaran membutuhkan porsi yang besar untuk didoakan dan digumulkan bersama. Nah, mengingat pacaran adalah hal yang penting menuju pernikahan, maka pertanyaannya, "saya menikah atau tidak?" *jengjengjeng*

Sejujurnya, gw mendoakan untuk tidak menikah. Hal ini didoakan berkaitan dengan beberapa hal pribadi. Mungkin salah satunya adalah gw belum siap untuk membagi kasih hanya untuk satu orang tertentu. Apalagi kalau mengingat kalau gw merasa dipanggil untuk menjadi wadah bagi banyak orang merasakan kasih (ya ga ekstrim juga sih, tapi kalau di saat-saat tertentu ada kecemburuan phak berwajib saat gw melakukan ketulusan kepada orang lain.... hem-_- ribet dah). Tapi itu sebenernya sebagian kecil sih. Kecil banget malah.

Awalnya, alasan paling kuat adalah karna sebelum umur 20, merasa memang belum butuh. Haha.. jadi sampai semester 4 memang memutuskan untuk tidak pacaran. Masalahnya, ini udah mau semester 5 *Jengjeng* wkwkwk.. Sebenernya di awal semester 4 udah mulai memutuskan untuk mendoakan kembali. Di tengah mendoakan kembali pergumulan pasangan hidup ini, gw merasa terpanggil (dengan kuat) untuk tidak menikah. Ini bukan hal mudah. Bergumul tentang hal ini sangat sulit mengingat faktornya sangat kuat dan sulit diubah. Sampai beberapa minggu lalu, gw merasa panggilannya memang untuk tidak menikah dan menerima jawaban itu adalah hal yang sulit.

Akan tetapi akhirnya jawabannya adalah... menikah. Hasilnya, gw diizinkan untuk menikah oleh Dia. Rasanya, lega. Bahkan menunggu konfirmasinya aja keringet dingin lho...

Nah, sekarang pertanyaan kedua... "Pacarannya kapan? Buka hati sekarang atau tunda dulu?"

Ini nih yang sulit. Padahal udah pernah dijawab Yosua 3 buat melangkah dengan iman, tapi belum tau harus melangkah ke arah yang mana? Buka hati atau tutup hati dulu? Haha. Sungguh, bukan gw ga normal ya-_- Masih suka laki-laki ko. Masih liat-liat cowo ganteng (walaupun itu bukan kriteria, wkwk). Tapi kalo ditanya udah buka hati apa belum, jawabannya belum. Hati ini akan tertutup sampai jawabannya jelas. Hati ini akan terbuka jika sudah diperintahkan sama Tuannya di dalam sana. Masih butuh konfirmasi yang jelas nih Tuhan..... (Nanti giliran dijawab gwnya yang ga mau terima, Haha... manusia..)

Oiya, kalo liat cara orang-orang deketin orang lain selama ini sih, gw sejujurnya lebih menghargai laki-laki yang berani ngomong dan ajak berdoa. Kalo buat kriteria khusus, gw ga punya. Soalnya belum mikirin sejauh itu dan kayanya ga sampe mikirin kriteria khusus juga.

Sekarang, masih mendoakan waktu yang tepat untuk membuka hati. Sungguh ini bukan postingan jual mahal. Ini postingan untuk menjawab orang-orang yang nanya kenapa gw ga nyari cowo-_- nyeh...

Untuk kalian yang baca postingan ini, doakan gw mendapat jawaban sebelum semester 5 dimulai yaa (8 Agustus 2016) hehehe... Makasi...

nb: Menutup hati bukan berarti berhenti menyebarkan kasih lho ya. hehe.

Good night.

Rabu, 06 Juli 2016

Kehilangan (trying to deal with it)

[ K E H I L A N G A N ]

"Proses berdamai dengan diri sendiri. Manusia cenderung defensif dengan berusaha untuk menutup sebuah kekosongan. Sebagian yang 'biasanya' di sana, hilang. Meninggalkan lubang yang besar. Lubang yang kemudian terisi dengan memori - orang sebut itu kenangan. Banyak, tapi kerap tidak tertutup. Semakin dikonsumsi semakin haus. Semakin dihindari semakin kering dan merindu. Memori yang dulu manis kemudian membawa guratan luka sampai akhirnya terasa pahit karena ada yang 'belum selesai'. beberapa saat bisa menjadi sangat sensitif. Sangat rapuh bila terusik. Namun, kehilangan hanya membutuhkan usaha untuk berdamai. Berdamai dengan diri sendiri. Sederhana, jalani hari-hari, jangan terus meratap sampai mereka yang di sini pergi hingga tiada yang tersisa lagi."

- 4 Juli 2016 -

Bukan, bukan hari ini aku mengalaminya. Bukan pula 2 hari lalu. Bukan pula beberapa bulan lalu.
Sudah lama. Dia pergi beberapa tahun lalu. Rasa kehilangan itu masih muncul. Dan entah kenapa 2 hari lalu perasaan kehilangan itu memuncak. Memang aku tidak meratap ataupun melakukan hal yang buruk. Aku hanya mengenangnya - dan itu sudah cukup buruk (dalam waktu tertentu, kenangan bisa menjadi sangat manis dan sangat perih di saat bersamaan).

Pernah mendengar lagu "Amazing Grace"?
Tahukah kamu bahwa aku akan menutup telinga bahkan kabur saat mendengarkan lagu itu beberapa waktu belakangan?
Tahukah alasan dibalik reaksiku yang buruk terhadap lagu yang sangat indah itu?

Aku Takut.

Lagu itu pernah menjadi sangat manis, teramat manis saat dimainkan dengan biola sepenuh hati dan penuh peghayatan. Setiap nada berbicara tanpa perlu dinyanyikan. Merdu dan damai serta euforia bahagia bergabung dan semuanya terasa begitu indah. Sampai kemudian pemain biola itu pergi dan tak kembali, 6 tahun lalu.

Semenjak itu, aku masih sangat menyukai lagunya, bahkan semakin mengagumi dan menghayatinya. Sampai akhirnya aku mendengarkannya dimainkan oleh banyak orang. Salah satunya memainkan lagu itu di saat-saat aku jatuh dan terpuruk. Memainkannya di saat aku sedih. Memainkannya di saat aku tidak bisa tidur karna mimpi buruk, ataupun karna sakit yang tidak kunjung mereda. Lagu itu menjadi kekuatan, sampai akhirnya aku menghancurkan segalanya. Saat itu, aku melakukan banyak kesalahan. Aku merusak banyak relasi. Dan puncaknya, terjadi saat aku hampir gila (sepertinya dalam arti sungguhan - sudah kuceritakan sebelum postingan ini). Setelah itu, lagu ini menjadi mimpi buruk. Sedikit saja dimainkan, pikiran ini tidak akan tenang, bahkan air mata mengalir tanpa aba-aba. Kau tahu kenapa? Karena aku takut merasa kehilangan. Aku takut kehilangan mereka yang ada di depan mata tanpa bisa berbuat apa-apa. Kemudian perasaan itu merambat dan membuat luka dari memori 6 tahun lalu. Kehilangan.

Namun, 2 hari lalu aku sadar. Aku meresponinya dengan cara yang salah. Aku hanya perlu berdamai dengan diriku sendiri. Menyadari bahwa dia sudah tenang di sana dan kembali ke sini (hal yang tidak mungkin) adalah kerugian yang sangat amat besar. Kemudian, seperti apapun mereka, seperti apapun relasi yang sudah rusak itu, seperti apapun sikap yang telah berubah, sekalipun lagu itu tidak akan lagi dimainkan, dia, mereka tetap sahabat yang dulu aku kasihi tanpa syarat. Sekarang, aku pun tetap mengasihi mereka tanpa syarat.

When i remember that He died for me, i never go back anymore.
When i remember that you are my best friends, i never regret anything.
Because... The Lord loves you, so do i.

Setelah beberapa waktu berfikir, tertuanglah kata-kata miring di atas. Dan kini, lagu "Amazing Grace" menjadi semakin manis dan menakjubkan. Terutama bait ini,

Amazing grace, How sweet the sound
That saved a wretch like me.
I once was lost, but now I am found,
Was blind, but now I see

Now, i see..
Semuanya sedang berjuang. Semua sedang berproses. Semua sedang berusaha menjadi lebih baik. Aku pun demikian. Yang kami butuhkan hanya saling mendukung.
Lagu ini manis, aku ingin mendengarnya lagi dan lagi.

Sabtu, 18 Juni 2016

Can't or won't? BOTH.

Ada yang tau kah gw sedang dalam masa-masa apa? (krik. krik. krik.)
Ya apapun spekulasi yang keluar, jawabannya simpel: masa liburan~ Yaaay.

Liburan kali ini seperti liburan yang lalu-lalu, sangat tidak libur. Hahaha. Untungnya, setiap kegiatan yang mengharuskan gw masuk dalam kategori sibuk itu masih dapat dinikmati dan masih diselimuti hawa-hawa sukacita. Salah satu kegiatan wajib gw selama libur adalah STREAMING. Hehehe, don't judge me guys. tapi gw akuin streaming serial supernatural dengan the winchester sebagai tokoh utamanya emang jadi mood booster buat gw. So, let me tell you something about supernatural.

Apa yang membuat gw suka banget sama supernatural?

The winchester. Mereka yang bikin gw tergila-gila sama supernatural. Pertama, muka mereka berdua ga ketolong gantengnya (wkwk, this one is my ladies instinct). Kedua, genrenya horror thriller yang menarik (bukan semacam hantu keramas, gali kubur, atau apapun yang kaya gitu-_-). Ketiga, the winchester ganteng (again. wkwk). But, seriously..... There's something inside the characters that make them look so perfect in their imperfection.

Oke, serius. Alesan sebenernya gw sangat menyukai serial ini adalah karakter sam dan dean winchster di serial ini sangat meaningful buat gw. Kedua karakter ini ada dalam ikatan abang ade di keluarga pemburu hantu lengkap dengan masa lalu dan masa depan penuh hantu dan misteri. Tapi yang membuat gw sangat mengidolakan mereka adalah kesadaran kedua karater ini bahwa mereka tidak bisa dan tidak mau meninggalkan satu sama lain. Dalam 7 season yang udah gw tonton, berkali-kali mereka ada dalam situasi yang mengharuskan mereka untuk memilih berpisah atau bersama (lengkap dengan konsekuensi yang mengerikan). Akan tetapi, ternyata dalam setiap kesempatan itu mereka tidak pernah memilih untuk berpisah. Sekalipun mereka bilang ingin berpisah, nyatanya mereka tidak pernah benar-benar terpisah.

Memilih untuk tetap bersama bukanlah hal yang mudah. Mereka berjuang. Mereka berusaha menjaga satu sama lain. Berkali-kali mereka saling mengecewakan, namun akhirnya mereka memaafkan karena mereka tahu bahwa setiap tindakan yang mengecewakan itu pasti dilandasi oleh pemikiran untuk saling melindungi dan menolong. Mereka tahu bahwa saat mereka berpisah, mereka hanya sedang menyiksa satu dengan yang lain dan melemahkan satu sama lain. Dan akhirnya mereka selalu kembali bersama karena mereka percaya...
"Saat mereka bersama, di saat itulah mereka berada di titik yang paling kuat."
Kadang waktu liat mereka, gw malah iri. Haha, bodoh ya.. Padahal mereka tokoh fiktif, tapi gw iri. Kapan punya sodara kaya mereka? Wkwk.. Brother should be like them.

By the way, in another case, i feel that i can imagine how they "love" each other in their way.
Hem.. saat mereka disuruh pisah, mereka sempet ditanya, "kalian gabisa atau gamau?" dan mereka jawab "dua-duanya".

Berikut penutup postingan malam ini.

Bermusim telah lewat,
Malam berganti siang
Siang pun berganti malam
Satu persatu daun berguguran

Bermusim telah lewat
Hujan badai mengamuk
Panas terik membakar
Satu persatu daun berguguran

Bermusim telah lewat
Akar dan batang tetap satu
Batang dan ranting tetap satu
Satu persatu daun berguguran

Bermusim telah lewat
Dan kita bukanlah daun
Kita bukan ranting
Kita bukan pohon
Tapi..

Kalian jatuh, aku ikut terluka
Kalian sedih, aku ikut menangis
Kalian remuk, aku ikut hancur
Kalian patah, aku pun terbelah

Sulit melihat menembus tembok
Sukar menyentuh yang tak ingin disentuh
Mungkin ini waktunya berhenti
Mungkin saatnya tidak peduli

Andaikan iya. Andaikan benar-benar iya.
Apakah aku tidak bisa?
Ataukah aku tidak mau?
Dua-duanya.

Karena bagiku diam adalah siksaan.
Karena bagiku penolakan pahit kurasakan
Karena bagiku sakit saat dilupakan.
Tapi kuterima, jika itu proses pemulihan.

Kembalilah.
Kembalilah.
Kembalilah.
Kembalilah.

Kutunggu. 
Sampai habis waktuku.
Kutunggu.
Kalian sahabatku, selalu sahabatku, selamanya sahabatku.

Rabu, 18 Mei 2016

Setelah begitu banyak yang berlalu

Banyak hal yang udah terjadi selama gw ga nulis postingan. Sanking banyaknya sampe bingung mau ngetik apa dah...
Masa-masa zombie udah lewat. Gw bahkan sekarang udah mau selesai UAS (btw, doain statistik infer gw ya, wkwk). Belakangan ini disibukkan dngan tugas-tugas eksperimen, metode kualitatif, MOW, dan lain sebagainya. Hem, tetep sih, ga lupa sama hal-hal yang di hati (?)

Mau curhat.. Ya kenapa di blog fan? Karena gw lebih jujur saat nulis/ngetik dibandingin ngomong lagsung. I'm a faking good girl yang malas bermasalah dan mau semuanya gapapa aja. So, sampe sekarang gw mamilih untuk menutupi semuanya dengan senyum. Sekian basa-basinya, haha. (Maaf ya yang baca, postingan ini bukan postingan bijak, ini hanya sampah-sampah yang perlu dibuang, kadi kalo ga kuat mending close aja ._.v)

Pertama, gw masih berusaha untuk mempertahankan relasi yang sebenernya gw bahkan ga yakin masih bersisa atau engga. Sudah lelah dengan kata-kata yang muluk-muluk tentang setia, tentang perjuangan, tentang usaha. Kata-kata itu ga penting lagi sih karena intinya gw akan ada saat kalian butuh. Jadi jangan sungkan-sungkan buat hubungin gw kapan pun ya (kalo kalian baca postingan ini-_-)

Oh iya, belum lama ini menyadari bahwa rasanya semakin dijauhkan. Semakin tidak mengenal dan miskin informasi tentang banyak orang. Entahlah, mungkin ini jawaban. Semacam pengutusan untuk menyerah atau pengutusan untuk lebih berusaha. Belum pasti.

Kedua, aku akan segera berpisah sama akk tercinta. Oh my me.. Kita belom lama lho ya. Ngeselin kamu! Nanti kalo aku kangen gimana? Haduh, aku udah cukup lelah menahan kangen-_- hefff... Tapi, aku seneng sih sebenernya. Semua ada jalan dan waktunya masing-masing. Semangat ya kamu.. Tenanglah, sapulidi selalu di hati ko *ngomong depan kaca, dalem hati, buat diri sendiri* wkwkwk..

Ketiga... Gw ngantuk, sambung kapan-kapan yah..
Bhay~

Rabu, 16 Maret 2016

I'm going crazy - gila secara harafiah

Salah satu kerugian - atau malah keuntungan - calon psikolog adalah mereka tahu tanda-tanda bahwa mereka akan benar-benar gila.

Sejak hari minggu malam tanggal 13 Maret 2016 sepertinya gw mengalami serangan depresi ringan. Otak ngeblank ibarat komputer yang tiba-tiba di-shutdown, tapi error. [semacam hidup segan mati ga bisa]. Ga bisa dibilang kejadian itu terjadi gitu aja (Semacam there will always fire behind a smoke). Abis baca sesuatu, trus ngebayangin sesuatu, trus semuanya berubah (nahlo apaan tuh-_-). Kan gila kan gw-_-

Oke. serius dikit.

Sejak minggu malem itu akhirnya gw ga bisa komunikasi sama siapapun. Siapapun yang dimaksud di sini bener-bener siapapun bahkan orang tua gw sendiri. Gw cuma bicara di dalem otak dan ngeluarin respon-respon minim supaya mereka yakin aja kalo gw masih idup.

Tau ga? sejak gw baca itu, setiap gw liat orang yang kenal sama gw, gw kebayang dia akan marah dan dia akan melakukan sesuatu yang mengerikan ke orang lain. Bayangan itu nyata di otak gw dan mata gw saat itu. Orang-orang pinter bilangnya itu halusinasi. Saat itu juga gw tau kalo ada yang ga beres sama diri gw sendiri. Gw tau harusnya gw bisa lawan. Itu hal yang biasa. Siapa sih yang ga pernah berhalusinasi (apalagi imajinasi). Tapi keadaan saat itu berkata lain. Gw masih syok, takut, dan yang paling parah gw ga bisa apa-apa. Gw berjuang beberapa bulan dan sepertinya kemarin gw kaget. Ya cuma kaget. Tapi gw hampir benar-benar gila.

Mulai saat itu orang bilang gw kaya zombie. Tau zombie kan? Kalo ga tau coba cek google. Cari kriterianya. Kalo ketemu, nah itu gw beberapa hari ini (pastinya kecuali bagian makan otak dan kanibalisme lainnya-_-). Gw ngediemin semua orang yang bahkan ga tau apa-apa. Kata orang kerjaan gw bengong. Padahal mah kaga. Gw mikir. Tapi gw ga tau gw mikirin apa (yaksip-_-).

Gw takut. Gw takut liat orang lain.Sadar ko gw kalo itu halusinasi, tapi gw takut halusinasi itu jadi kenyataan. Halusinasi itu ganggu dan gw belom punya tenaga buat ngelawan. Gw takut banget kehilangan beberapa orang dan tanpa gw sadari gw mulai kehilangan orang-orang lainnya. Gw mulai ngerasa ga layak jadi psikolog dan ga tau lagi buat apa kuliah. Gw ga belajar padahal gw lagi UTS. Gw ga tau ngisi apa waktu UTS statistik infer. Gw hampir sampe di tahap gw bener-bener gila.

Yang gw alamin sampe kemarin:
1. Gw kaget dan syok
2. Gw berhalusinasi
3. Gw ga sanggup komunikasi sama orang lain
4. Gw ga belajar dan ga tau ngerjain apa waktu UTS
5. Gw ngeringkuk di kamar dan entah kenapa nangis ga jelas
6. Gw ga berani ngeliat muka orang secara langsung
7. Gw mulai sadar kalo gw kehilangan fungsi sosial gw dan tenggelam dalam halusinasi gw dan gw ketakutan setengah mati sampe gw akhirnya ngechat temen gw.

Makasi buat Sapulidi, Gita, Webe, dan Tulang Monang yang udah buat gw bisa mikir sedikit rasional.
Makasi buat abang-abang warteng yang bikin halusinasinya berkurang.
Maaf buat kalian yang gw kacangin, sungguh gw bukan marah atau benci, gw takut. Takut banget.

Akhirnya kemarin gw mulai bisa ngobrol dan bisa senyumin orang. Mulai bisa ketawa walaupun dengan paksaan dan energi yang besar. Udah bisa mikir kayanya gw bakal ngulang statistik inferensial karna gw kayanya ga ngerjain apa-apa pas UTS. Semoga gw bisa berusaha ngelawan kebodohan gw sendiri ini.

Deeply inside, gw masih takut banget kalo akhirnya gw akan membuat lebih banyak orang lagi trauma, sakit, sial, dsb. Kata orang ini usaha menyalahkan diri sendiri. Tapi, sungguh, gw takut.

nb: Gw harus bertahan di psikologi atau gw mending nyari jurusan lain? Ada keinginan buat jualan aja drpada kuliah.

Aku pernah membagi hatiku (bukan posting cinta-cintaan)

Aku pernah menyimpan relung hati ini terbatas untuk aku, mama, dan papa. Hati ini begitu eksklusif dan posesif terhadap mereka. Ketakutan terbesarku adalah kehilangan mereka. Tidak pernah aku meninggalkan mereka walau hanya sehari saja. Hal itu kulakukan karna yang kutahu hanya aku yang mereka punya. Berlagak seperti superhero jagoan papa yang setia lindungin mama. Saat itu, meninggalkan mereka beberapa jam saja membuat hatiku gelisah. Bukannya pengecut dan ga berani tidur sendiri, bukannya takut dan ga berani nginep di tempat lain, tapi sekali lagi, yang kutahu hanya aku yang mereka punya. Kemudian, aku sadar dunia tidak sesempit itu. Aku mulai membuka mata dan melihat banyak orang yang membuatku kagum. Tulang monang salah satunya. Ya kemudian beberapa orang mulai datang dan pergi. Aku berteman dengan siapa saja dan memeperhatikan siapapun dengan tulus. Namun duniaku tetap hanya aku yang tahu. Aku menerima siapa saja untuk meninggalkan bekas di hidupku. Akan tetapi, hanya mama dan papa yang memenangkan hati ini secara telak. Ya, hanya mereka, hanbun dan teddy bearku.

Kemudian sampai ke babak hidup yang baru. Masa-masa ini dimulai beberapa tahun yang lalu. Saat itu aku merasakan cinta dari Dia. Hem, ga main-main. Cara pandang berubah. Kini, kasih tidak seeksklusif dulu. Aku percaya setiap orang punya setitik kebaikan di dalam hatinya seburuk apapun dia di tampak luarnya. Maka, aku rasa cinta yang besar itu harus dibagikan pada semua orang. Yup. Semua orang. Terlebih mereka.


Mau tidak mau. Aku membagi hatiku lagi. Dengan lebih spesifik mereka bertiga (oh man, kenapa semua kisah kembali berlabuh ke tempat ini?). Singkat, sungguh cerita ini sangat singkat jadinya. Kalau aku menceritakan semuanya, mungkin jari-jari ini yang akhirnya menyerah. Tapi lupakan. Ini inti postingannya. Aku membagi hatiku kepada mereka. Namun akhirnya beberapa dari mereka pergi. Ya mereka pergi. Entah benar-benar pergi atau tidak, tapi mereka pergi. Sekarang hatiku tinggal setengah. Sepertinya aku telah kehilangan satu orang secara utuh dan sekarang masih menunggu satu lagi untuk pulih. Sedangkan yang satu lagi, dia sepertinya baik. Ya, setidaknya keadaannya sedikit lebih baik dari yang lain.

Aku pernah membagi hatiku dan kini sebagian telah hampa. Menunggu mereka kembali pulang.

God, oh i know You're in there. Please, i beg You. Bring them back.

Jumat, 11 Maret 2016

Takut

Takut.
Kini banyak hal berubah menjadi bayang.
Perasaan yang dulu menggebu mendadak hilang.
Mereka satu per satu pergi dan tak kunjung pulang.

Mampukah aku tetap menjadi rumah?
Mampukah aku menunggu tanpa keluh kesah?
Mampukah aku memstikan ini bukan tidakan yang salah?

Sampai saatnya tiba dan aku sadar aku terlalu takut.

Takut menjalin relasi baru
Takut terhisap kenyamanan semu
Takut hanya jadi sandungan batu
Bagi mereka yang berniat membantu

Aku ingin mengurung diri
Cukup atasi semua sendiri
Sampai nanti tiba waktunya pergi
dan rumah itu bukan diriku lagi

Tapi, ada sedikit api yang tak mau mati
Jauh di dalam hati ini aku merindu setengah mati
Terhadap mereka yang sangat kukasihi
Temanku menangis tertawa dan terus berbagi
Sebelum semua berubah menjadi ironi

Ini rindu, ini gelora yang membuncah
Ini rindu, ini perih dari luka yang selalu basah

Bukan lukaku, tapi luka mereka..
Yang nampaknya tak bisa kusembuhkan selamanya...






Teman, kemarin aku baru saja ikut Persekutuan Jumat di Smansa. Temanya, fellowship. Tahukah kalian? Sesaat setelah aku memandangi mereka, wajah-wajah yang penuh ekspresi itu, adik-adik kelas kita itu... aku ingat kalian.. Bagaimana dulu kita menjalin relasi tanpa memikirkan banyak hal lain.. Bagaimana dulu Tuhan menyatukan kita dalam wadah itu. Aku rindu.

"kasih bukan lagi kasih ketika menuntut"

aku mengasihi kalian. Sekarang dan selamanya. Sekalipun kalian tidak lagi mengasihiku. Sampai akhir hidup ini - yang mungkin ga lama lagi - aku mendoakan kalian. Cepat pulih :)